Tampilkan postingan dengan label Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Juli 2010

hikayat

Bentuk sastra lama bermacam-macam. Secara umum karya sastra lama terdiri atas prosa dan puisi.
Istilah prosa diambil dari bahasa Latin yaitu oratio provorsa yang artinya ucapan langsung. Dalam kesusastraan, prosa merupakan sejenis karya sastra yang bersifat paparan. Prosa sering pula disebut karangan bebas karena tidak terikat oleh aturan-aturan khusus (misalnya rima, ritme, seperti halnya puisi).
Menurut zamannya prosa dibedakan menjadi dua periode yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama sebagai gambaran kehidupan masyarakat pada zaman dahulu, yaitu kehidupan masyarakat sebelum memiliki rasa kesadaran nasional. Jika dibatasi dengan tahun, prosa lama ini berkembang sebelum tahun 1900. Prosa lama dibedakan beberapa jenis diantaranya dongeng, cerita rakyat, cerita pelipur lara, hikayat, tambo, cerita berbingkai, dan kitab-kitab.

Sastra lama yang berbentuk prosa umumnya mempunyai ciri-ciri :
1. Ceritanya seputar kehidupan istana. Karena itu bersifat istanasentris.
2. Menggambarkan tradisi masyarakat yang lebih menonjolkan kekolektifan daripada keindividualan. Sebagai akibat logisnya, sastra lama dianggap milik bersama(kolektif).
3. Konsekuensi dari ciri kedua, sastra lama bersifat anonim, pengarangnya tidak dikenal.
4. Sastra lama bersifat lisan, disampaikan dari generasi ke generasi.

HIKAYAT

Hikayat adalah cerita pelipur lara yang sulit diterima akal dan merupakan cerita rekaan, tetapi memiliki pesan dan amanat bagi pembacanya. Dalam pengertian lain, hikayat adalah sejenis prosa sastra melayu lama yang ceritanya berkisar pada sikap kepahlawanan tokoh-tokoh istana.
Karya yang termasuk prosa lama ialah dongeng(prosa lama yang isinya semata-mata berdasarkan khayalan dan disampaikan secara lisan), hikayat (isinya mengenai kejadian-kejadian di lingkungan istana, tentang keluarga kerajaan), silsilah atau tambo (semacam sejarah, akan tetapi isinya sudah dicampur aduk dengan khayal sehingga banyak cerita yang tidak tercerna oleh pikiran sehat).
Contoh hikayat antara lain :
1. Hikayat Hang Tuah
2. Hikayat Si Miskin
3. Hikayat Panca Tantra
4. Hikayat Panji Semirang
5. Hikayat Dalang Kusuma
6. Hikayat Amir Hamzah
7. Hikayat Anggun Cik Tunggal
8. Dan sebagainya

Ciri-ciri Hikayat :
1. Berisi kisah-kisah kehidupan lingkungan istana (istanasentris)
2. Banyak peristiwa yang berhubungan dengan nilai-nilai Islam
3. Nama-nama tokoh dipengaruhi nama-nama Arab
4. Ditemukan tokoh dengan karakter diluar batas kewajaran karakter manusia pada umumnya
5. Tidak ada pembagian bab atau judul
6. Juru cerita tidak pernah disebutkan secara eksplosit (anonim)
7. Sulit membedakan peristiwa yang nyata dan peristiwa yang imajinatif
8. Banyak menggunakan kosakata yang kini tidak lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari
9. Seringkali menggunakan pernyataan yang berulang-ulang
10. Peristiwa seringkali tidak logis
11. Sulit memahami jalan cerita

Periodisasi Sastra

A. Wilayah Studi Sastra

Wilayah Studi sastra dibagi menjadi 3 bidang :
1. Teori Sastra
Adalah bidang studi sastra yang memberikan pengetahuan tentang pengertian sastra.
Misal : mengenai arti, asal, bentuk, isi sastra, dsb.
2. Kritik Sastra
Adalah bidang studi sastra yang memberikan kritik terhadap hasil-hasil karya sastra, yang berupa penilaian sastra serta pertimbangan-pertimbangan terhadap karya sastra tertentu.
3. Sejarah Sastra
Adalah bidang studi sastra yang membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sastra serta seluk-beluk yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan sastra tersebut.

B. Dasar Penggolongan Periodisasi Sastra
1. Bahasa
Sebelum bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa nasional pada tahun 1928, karya sastra Indonesia ditulis dalam bahasa Melayu. Karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu disebut sastra Melayu lama. Setelah bahasa Indonesia lahir, sastra Indonesia ditulis dengan bahasa Indonesia sehingga sastranya disebut Sastra Indonesia.
2. Pengaruh Asing
Pengaruh ini meliputi pengaruh Hindu, Arab, Barat juga Jepang. Oleh karena itu, kita mengenal kesusastraan Hindu, masa Islam, dan masa Jepang.
3. Pengaruh Politik
Angkatan ’66 timbul sebagai akibat protes sosial terhadap pemerintah order lama yang telah menyeleweng dari UUD ’45 dan Pancasila.

C. Periodisasi Sastra Indonesia
Pengelompokan hasil karya sastra berdasarkan waktu tertentu.
Perkembangan sejarah sastra Indonesia menurut beberapa ahli :
1. J.S. Badudu
a. Kesusastraan lama dengan angkatan lamanya
1. Kesusastraan masa purba
2. Kesusastraan masa Hindu-Islam
b. Kesusastraan peralihan dengan angkatan peralihannya
1. Abdullah bin Abdul Kadir Mursyi
2. Angkatan Balai Pustaka
c. Kesusastraan baru dengan angkatan barunya
1.Angkatan Pujangga Baru
2. Angkatan Modern (angkatan ’45)
3.Angkatan Muda
2. H.B. Jassin
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
1. Angkatan ‘20
2. Angkatan ’33 / Pujangga Baru
3. Angkatan ‘45
4. Angkatan ‘66
3. Ajip Rosidi
a. Masa kelahiran atau masa kejadian (awal abad XX-1945)
1. Periode awal abad XX-1933
2. Periode 1933-1942
3. Periode 1942-1945
b. Masa Perkembangan (sejak 1945-kini)
1. Periode 1945-1953
2. Periode 1953-1960
3. Periode 1960-kini
4. Nugroho Noto Susanto
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
1. Masa Kebangkitan
- Periode ‘20
- Periode ‘33
- Periode ‘42
2. Masa Perkembangan
- Periode ‘45
- Periode ‘60

Senin, 24 Mei 2010

Majas

Majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran yang terpendam di dalam jiwanya. Pada dasarnya majas dapat dibagi menjadi empat, yaitu :

A. Majas Perbandingan

1. Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga selah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup. Contoh : Baru tiga kilometer berjalan mobilnya sudah batuk-batuk
2. Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama. Contoh Raja siang telah pergi ke peraduannya (Raja siang = matahari)
3. Eufinisme (ungkapan pelembut) adalah majas perbandingan yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang). Contoh : Para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah
4. Sinekdokn dapat dibedakan atas
a. Pars pro toto, yaitu majas sinekdokne yang melukiskan sebagian tetapi yang dimaksud adalah seluruhnya. Contoh : Dia mempunyai lima ekor kuda
b. Totem pro parte, ialah majas sinekdokne yang melukiskan keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian. Contoh : Kaum wanita memperingati hari Kartini
5. Alegori adalah majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh, perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh. Contoh : Hati-hatilah mengatur kemudimu janganlah engkau lengah sebab di depan banyak belokan, jurang, serta tebing yang siap menghancurkan kendaraanmu.
6. Hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti. Contoh : Kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya
7. Simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Contoh : Dari dulu tetap saja ia menjadi lintah darat. (Lintah darat, lambang pemeras, pemakan riba)
8. Litotes (hiperbola negatif) adalah majas perbandingan yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri. Contoh : Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
9. Alusio adalah majas perbandingan dengan mempergunakan ungkapan peribahasa kata-kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Ah, dia itu tong kosong nyaing bunyinya.
10. Asosiasi adalah majas perbandingan yang memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat. Contoh : Wajahnya muram bagai bulan kesiangan.
11. Perifrasis adalah perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menguraikan sepatah kata menjadi serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu. Contoh : Petang barulah ia pulang. Menjadi : Ketika matahari hilang di balik gunung barulah ia pulang.
12. Metonimia adalah majas perbandingan yang menggunakan merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan atau dikerjakan sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan. Contoh : Kemarin ia memakai Kijang (mobil merk Toyota Kijang)
13. Antonomasia adalah majas perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap seseorang berdasarkan ciri atau sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : si pincang, si jangkung, si keriting, dsb.
14. Tropen adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan kata-kata lain yang mengandung pengertian yang sejalan dan sejajar. Contoh : Setiap malam ia menjual suaranya untuk nafkah anak istrinya.
15. Parabel adalah majas perbandingan dengan menggunakan perumpamaan dalam hidup. Misalnya : Mahabarata, Bayan Budiman.

Minggu, 20 Desember 2009

Sastra Indonesia

Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra
di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.

Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu
seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.

Daftar isi


* 1 Periodisasi
* 2 Pujangga Lama
o 2.1 Karya Sastra Pujangga Lama
+ 2.1.1 Sejarah
+ 2.1.2 Hikayat
+ 2.1.3 Syair
+ 2.1.4 Kitab agama
* 3 Sastra Melayu Lama
o 3.1 Karya Sastra Melayu Lama
* 4 Angkatan Balai Pustaka
o 4.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
* 5 Pujangga Baru
o 5.1 Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
* 6 Angkatan 1945
o 6.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
* 7 Angkatan 1950 - 1960-an
o 7.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
* 8 Angkatan 1966 - 1970-an
o 8.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
* 9 Angkatan 1980 - 1990-an
o 9.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980
* 10 Angkatan Reformasi
o 10.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
* 11 Angkatan 2000-an
o 11.1 Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
* 12 Cybersastra
* 13 Pranala luar
* 14 Referensi

Periodisasi

Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:

* lisan
* tulisan

Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

* Angkatan Pujangga Lama
* Angkatan Sastra Melayu Lama
* Angkatan Balai Pustaka
* Angkatan Pujangga Baru
* Angkatan 1945
* Angkatan 1950 - 1960-an
* Angkatan 1966 - 1970-an
* Angkatan 1980 - 1990-an
* Angkatan Reformasi
* Angkatan 2000-an

Pujangga Lama

Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.

* Sejarah Melayu (Malay Annals)

Hikayat

* Hikayat Abdullah
* Hikayat Aceh
* Hikayat Amir Hamzah
* Hikayat Andaken Penurat
* Hikayat Bayan Budiman
* Hikayat Djahidin
* Hikayat Hang Tuah
* Hikayat Iskandar Zulkarnain
* Hikayat Kadirun



* Hikayat Kalila dan Damina
* Hikayat Masydulhak
* Hikayat Pandawa Jaya
* Hikayat Pandja Tanderan
* Hikayat Putri Djohar Manikam
* Hikayat Sri Rama
* Hikayat Tjendera Hasan
* Tsahibul Hikayat

Syair

* Syair Bidasari
* Syair Ken Tambuhan
* Syair Raja Mambang Jauhari
* Syair Raja Siak

Kitab agama

* Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
* Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
* Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
* Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri

Sastra Melayu Lama

Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.

Karya Sastra Melayu Lama

* Robinson Crusoe (terjemahan)
* Lawan-lawan Merah
* Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
* Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
* Kapten Flamberger (terjemahan)
* Rocambole (terjemahan)
* Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
* Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
* Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
* Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
* Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
* Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
* Cerita Nyi Paina
* Cerita Nyai Sarikem
* Cerita Nyonya Kong Hong Nio



* Nona Leonie
* Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
* Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
* Cerita Rossina
* Nyai Isah oleh F. Wiggers
* Drama Raden Bei Surioretno
* Syair Java Bank Dirampok
* Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
* Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
* Tambahsia
* Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
* Nyai Permana
* Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
* dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya

Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.

Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.

Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka

* Merari Siregar
o Azab dan Sengsara (1920)
o Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
o Cinta dan Hawa Nafsu

* Marah Roesli
o Siti Nurbaya (1922)
o La Hami (1924)
o Anak dan Kemenakan (1956)

* Muhammad Yamin
o Tanah Air (1922)
o Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
o Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
o Ken Arok dan Ken Dedes (1934)

* Nur Sutan Iskandar
o Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
o Cinta yang Membawa Maut (1926)
o Salah Pilih (1928)
o Karena Mentua (1932)
o Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
o Hulubalang Raja (1934)
o Katak Hendak Menjadi Lembu (1935)



* Tulis Sutan Sati
o Tak Disangka (1923)
o Sengsara Membawa Nikmat (1928)
o Tak Membalas Guna (1932)
o Memutuskan Pertalian (1932)

* Djamaluddin Adinegoro
o Darah Muda (1927)
o Asmara Jaya (1928)

* Abas Soetan Pamoentjak
o Pertemuan (1927)

* Abdul Muis
o Salah Asuhan (1928)
o Pertemuan Djodoh (1933)

* Aman Datuk Madjoindo
o Menebus Dosa (1932)
o Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
o Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Baru

Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.

Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :

1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.

Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru

* Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)

* Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)

* Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)

* Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)

* Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)



* Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan

* Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)

* Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)

* J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)

* Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)

* Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)

* Karim Halim
o Palawija (1944)

Angkatan 1945

Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945

* Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)

* Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)

* Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan

* Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)

* Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)

* Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)

* Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)

Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.

Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an

* Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)

* Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)

* Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)

* Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)

* Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)

* Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)

* Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)



* Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)

* Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)

* W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)

* Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)

* Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)

* Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)

* Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)

* Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)

* Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.

Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966

* Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit

* Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak

* Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)

* Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)

* Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)

* Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung

* Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala

* Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)

* Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom



* Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)

* Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)

* Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)

* Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit

* M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)

* Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)

* Chairul Harun
o Warisan (1979)

* Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)

* M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)

* Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)

* Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)

* Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)

* Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)

* Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus

Angkatan 1980 - 1990-an

Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.

Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.

Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.

Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.

Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.

Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980

* Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)

* Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)

* Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)

* Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)

* Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)

* Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)

* Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)

* Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)

* Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)

* Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)

Angkatan Reformasi

Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.

Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.

Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi

* Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman

Angkatan 2000-an

Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
[sunting] Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000

* Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)

* Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai

* Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)

* Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)

* Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)

Cybersastra

Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya.

Sumber : Wikipedia