Bentuk sastra lama bermacam-macam. Secara umum karya sastra lama terdiri atas prosa dan puisi.
Istilah prosa diambil dari bahasa Latin yaitu oratio provorsa yang artinya ucapan langsung. Dalam kesusastraan, prosa merupakan sejenis karya sastra yang bersifat paparan. Prosa sering pula disebut karangan bebas karena tidak terikat oleh aturan-aturan khusus (misalnya rima, ritme, seperti halnya puisi).
Menurut zamannya prosa dibedakan menjadi dua periode yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lama sebagai gambaran kehidupan masyarakat pada zaman dahulu, yaitu kehidupan masyarakat sebelum memiliki rasa kesadaran nasional. Jika dibatasi dengan tahun, prosa lama ini berkembang sebelum tahun 1900. Prosa lama dibedakan beberapa jenis diantaranya dongeng, cerita rakyat, cerita pelipur lara, hikayat, tambo, cerita berbingkai, dan kitab-kitab.
Sastra lama yang berbentuk prosa umumnya mempunyai ciri-ciri :
1. Ceritanya seputar kehidupan istana. Karena itu bersifat istanasentris.
2. Menggambarkan tradisi masyarakat yang lebih menonjolkan kekolektifan daripada keindividualan. Sebagai akibat logisnya, sastra lama dianggap milik bersama(kolektif).
3. Konsekuensi dari ciri kedua, sastra lama bersifat anonim, pengarangnya tidak dikenal.
4. Sastra lama bersifat lisan, disampaikan dari generasi ke generasi.
HIKAYAT
Hikayat adalah cerita pelipur lara yang sulit diterima akal dan merupakan cerita rekaan, tetapi memiliki pesan dan amanat bagi pembacanya. Dalam pengertian lain, hikayat adalah sejenis prosa sastra melayu lama yang ceritanya berkisar pada sikap kepahlawanan tokoh-tokoh istana.
Karya yang termasuk prosa lama ialah dongeng(prosa lama yang isinya semata-mata berdasarkan khayalan dan disampaikan secara lisan), hikayat (isinya mengenai kejadian-kejadian di lingkungan istana, tentang keluarga kerajaan), silsilah atau tambo (semacam sejarah, akan tetapi isinya sudah dicampur aduk dengan khayal sehingga banyak cerita yang tidak tercerna oleh pikiran sehat).
Contoh hikayat antara lain :
1. Hikayat Hang Tuah
2. Hikayat Si Miskin
3. Hikayat Panca Tantra
4. Hikayat Panji Semirang
5. Hikayat Dalang Kusuma
6. Hikayat Amir Hamzah
7. Hikayat Anggun Cik Tunggal
8. Dan sebagainya
Ciri-ciri Hikayat :
1. Berisi kisah-kisah kehidupan lingkungan istana (istanasentris)
2. Banyak peristiwa yang berhubungan dengan nilai-nilai Islam
3. Nama-nama tokoh dipengaruhi nama-nama Arab
4. Ditemukan tokoh dengan karakter diluar batas kewajaran karakter manusia pada umumnya
5. Tidak ada pembagian bab atau judul
6. Juru cerita tidak pernah disebutkan secara eksplosit (anonim)
7. Sulit membedakan peristiwa yang nyata dan peristiwa yang imajinatif
8. Banyak menggunakan kosakata yang kini tidak lazim digunakan dalam komunikasi sehari-hari
9. Seringkali menggunakan pernyataan yang berulang-ulang
10. Peristiwa seringkali tidak logis
11. Sulit memahami jalan cerita
Sajak adalah puncak keindahan. Bahkan kitab suci pun teruntai dari sajak yang menari indah
Jumat, 30 Juli 2010
Periodisasi Sastra
A. Wilayah Studi Sastra
Wilayah Studi sastra dibagi menjadi 3 bidang :
1. Teori Sastra
Adalah bidang studi sastra yang memberikan pengetahuan tentang pengertian sastra.
Misal : mengenai arti, asal, bentuk, isi sastra, dsb.
2. Kritik Sastra
Adalah bidang studi sastra yang memberikan kritik terhadap hasil-hasil karya sastra, yang berupa penilaian sastra serta pertimbangan-pertimbangan terhadap karya sastra tertentu.
3. Sejarah Sastra
Adalah bidang studi sastra yang membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sastra serta seluk-beluk yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan sastra tersebut.
B. Dasar Penggolongan Periodisasi Sastra
1. Bahasa
Sebelum bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa nasional pada tahun 1928, karya sastra Indonesia ditulis dalam bahasa Melayu. Karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu disebut sastra Melayu lama. Setelah bahasa Indonesia lahir, sastra Indonesia ditulis dengan bahasa Indonesia sehingga sastranya disebut Sastra Indonesia.
2. Pengaruh Asing
Pengaruh ini meliputi pengaruh Hindu, Arab, Barat juga Jepang. Oleh karena itu, kita mengenal kesusastraan Hindu, masa Islam, dan masa Jepang.
3. Pengaruh Politik
Angkatan ’66 timbul sebagai akibat protes sosial terhadap pemerintah order lama yang telah menyeleweng dari UUD ’45 dan Pancasila.
C. Periodisasi Sastra Indonesia
Pengelompokan hasil karya sastra berdasarkan waktu tertentu.
Perkembangan sejarah sastra Indonesia menurut beberapa ahli :
1. J.S. Badudu
a. Kesusastraan lama dengan angkatan lamanya
1. Kesusastraan masa purba
2. Kesusastraan masa Hindu-Islam
b. Kesusastraan peralihan dengan angkatan peralihannya
1. Abdullah bin Abdul Kadir Mursyi
2. Angkatan Balai Pustaka
c. Kesusastraan baru dengan angkatan barunya
1.Angkatan Pujangga Baru
2. Angkatan Modern (angkatan ’45)
3.Angkatan Muda
2. H.B. Jassin
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
1. Angkatan ‘20
2. Angkatan ’33 / Pujangga Baru
3. Angkatan ‘45
4. Angkatan ‘66
3. Ajip Rosidi
a. Masa kelahiran atau masa kejadian (awal abad XX-1945)
1. Periode awal abad XX-1933
2. Periode 1933-1942
3. Periode 1942-1945
b. Masa Perkembangan (sejak 1945-kini)
1. Periode 1945-1953
2. Periode 1953-1960
3. Periode 1960-kini
4. Nugroho Noto Susanto
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
1. Masa Kebangkitan
- Periode ‘20
- Periode ‘33
- Periode ‘42
2. Masa Perkembangan
- Periode ‘45
- Periode ‘60
Wilayah Studi sastra dibagi menjadi 3 bidang :
1. Teori Sastra
Adalah bidang studi sastra yang memberikan pengetahuan tentang pengertian sastra.
Misal : mengenai arti, asal, bentuk, isi sastra, dsb.
2. Kritik Sastra
Adalah bidang studi sastra yang memberikan kritik terhadap hasil-hasil karya sastra, yang berupa penilaian sastra serta pertimbangan-pertimbangan terhadap karya sastra tertentu.
3. Sejarah Sastra
Adalah bidang studi sastra yang membicarakan pertumbuhan dan perkembangan sastra serta seluk-beluk yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan sastra tersebut.
B. Dasar Penggolongan Periodisasi Sastra
1. Bahasa
Sebelum bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa nasional pada tahun 1928, karya sastra Indonesia ditulis dalam bahasa Melayu. Karya sastra yang menggunakan bahasa Melayu disebut sastra Melayu lama. Setelah bahasa Indonesia lahir, sastra Indonesia ditulis dengan bahasa Indonesia sehingga sastranya disebut Sastra Indonesia.
2. Pengaruh Asing
Pengaruh ini meliputi pengaruh Hindu, Arab, Barat juga Jepang. Oleh karena itu, kita mengenal kesusastraan Hindu, masa Islam, dan masa Jepang.
3. Pengaruh Politik
Angkatan ’66 timbul sebagai akibat protes sosial terhadap pemerintah order lama yang telah menyeleweng dari UUD ’45 dan Pancasila.
C. Periodisasi Sastra Indonesia
Pengelompokan hasil karya sastra berdasarkan waktu tertentu.
Perkembangan sejarah sastra Indonesia menurut beberapa ahli :
1. J.S. Badudu
a. Kesusastraan lama dengan angkatan lamanya
1. Kesusastraan masa purba
2. Kesusastraan masa Hindu-Islam
b. Kesusastraan peralihan dengan angkatan peralihannya
1. Abdullah bin Abdul Kadir Mursyi
2. Angkatan Balai Pustaka
c. Kesusastraan baru dengan angkatan barunya
1.Angkatan Pujangga Baru
2. Angkatan Modern (angkatan ’45)
3.Angkatan Muda
2. H.B. Jassin
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
1. Angkatan ‘20
2. Angkatan ’33 / Pujangga Baru
3. Angkatan ‘45
4. Angkatan ‘66
3. Ajip Rosidi
a. Masa kelahiran atau masa kejadian (awal abad XX-1945)
1. Periode awal abad XX-1933
2. Periode 1933-1942
3. Periode 1942-1945
b. Masa Perkembangan (sejak 1945-kini)
1. Periode 1945-1953
2. Periode 1953-1960
3. Periode 1960-kini
4. Nugroho Noto Susanto
a. Sastra Melayu Lama
b. Sastra Indonesia Modern
1. Masa Kebangkitan
- Periode ‘20
- Periode ‘33
- Periode ‘42
2. Masa Perkembangan
- Periode ‘45
- Periode ‘60
Senin, 24 Mei 2010
Majas
Majas atau gaya bahasa adalah cara pengarang atau seseorang yang mempergunakan bahasa sebagai alat mengekspresikan perasaan dan buah pikiran yang terpendam di dalam jiwanya. Pada dasarnya majas dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
A. Majas Perbandingan
1. Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga selah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup. Contoh : Baru tiga kilometer berjalan mobilnya sudah batuk-batuk
2. Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama. Contoh Raja siang telah pergi ke peraduannya (Raja siang = matahari)
3. Eufinisme (ungkapan pelembut) adalah majas perbandingan yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang). Contoh : Para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah
4. Sinekdokn dapat dibedakan atas
a. Pars pro toto, yaitu majas sinekdokne yang melukiskan sebagian tetapi yang dimaksud adalah seluruhnya. Contoh : Dia mempunyai lima ekor kuda
b. Totem pro parte, ialah majas sinekdokne yang melukiskan keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian. Contoh : Kaum wanita memperingati hari Kartini
5. Alegori adalah majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh, perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh. Contoh : Hati-hatilah mengatur kemudimu janganlah engkau lengah sebab di depan banyak belokan, jurang, serta tebing yang siap menghancurkan kendaraanmu.
6. Hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti. Contoh : Kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya
7. Simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Contoh : Dari dulu tetap saja ia menjadi lintah darat. (Lintah darat, lambang pemeras, pemakan riba)
8. Litotes (hiperbola negatif) adalah majas perbandingan yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri. Contoh : Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
9. Alusio adalah majas perbandingan dengan mempergunakan ungkapan peribahasa kata-kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Ah, dia itu tong kosong nyaing bunyinya.
10. Asosiasi adalah majas perbandingan yang memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat. Contoh : Wajahnya muram bagai bulan kesiangan.
11. Perifrasis adalah perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menguraikan sepatah kata menjadi serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu. Contoh : Petang barulah ia pulang. Menjadi : Ketika matahari hilang di balik gunung barulah ia pulang.
12. Metonimia adalah majas perbandingan yang menggunakan merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan atau dikerjakan sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan. Contoh : Kemarin ia memakai Kijang (mobil merk Toyota Kijang)
13. Antonomasia adalah majas perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap seseorang berdasarkan ciri atau sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : si pincang, si jangkung, si keriting, dsb.
14. Tropen adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan kata-kata lain yang mengandung pengertian yang sejalan dan sejajar. Contoh : Setiap malam ia menjual suaranya untuk nafkah anak istrinya.
15. Parabel adalah majas perbandingan dengan menggunakan perumpamaan dalam hidup. Misalnya : Mahabarata, Bayan Budiman.
A. Majas Perbandingan
1. Personifikasi adalah majas yang melukiskan suatu benda dengan memberikan sifat-sifat manusia kepada benda-benda mati sehingga selah-olah mempunyai sifat seperti manusia atau benda hidup. Contoh : Baru tiga kilometer berjalan mobilnya sudah batuk-batuk
2. Metafora adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan perbandingan langsung dan tepat atas dasar sifat yang sama atau hampir sama. Contoh Raja siang telah pergi ke peraduannya (Raja siang = matahari)
3. Eufinisme (ungkapan pelembut) adalah majas perbandingan yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih lembut untuk menggantikan kata-kata lain untuk sopan santun atau tabu bahasa (pantang). Contoh : Para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah
4. Sinekdokn dapat dibedakan atas
a. Pars pro toto, yaitu majas sinekdokne yang melukiskan sebagian tetapi yang dimaksud adalah seluruhnya. Contoh : Dia mempunyai lima ekor kuda
b. Totem pro parte, ialah majas sinekdokne yang melukiskan keseluruhan tetapi yang dimaksud sebagian. Contoh : Kaum wanita memperingati hari Kartini
5. Alegori adalah majas perbandingan yang memperlihatkan suatu perbandingan utuh, perbandingan itu membentuk kesatuan yang menyeluruh. Contoh : Hati-hatilah mengatur kemudimu janganlah engkau lengah sebab di depan banyak belokan, jurang, serta tebing yang siap menghancurkan kendaraanmu.
6. Hiperbola adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan mengganti peristiwa atau tindakan sesungguhnya dengan kata-kata yang lebih hebat pengertiannya untuk menyangatkan arti. Contoh : Kakak membanting tulang demi menghidupi keluarganya
7. Simbolik adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan benda-benda lain sebagai simbol atau perlambang. Contoh : Dari dulu tetap saja ia menjadi lintah darat. (Lintah darat, lambang pemeras, pemakan riba)
8. Litotes (hiperbola negatif) adalah majas perbandingan yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang berlawanan artinya dengan kenyataan yang sebenarnya guna merendahkan diri. Contoh : Perjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
9. Alusio adalah majas perbandingan dengan mempergunakan ungkapan peribahasa kata-kata yang artinya diketahui umum. Contoh : Ah, dia itu tong kosong nyaing bunyinya.
10. Asosiasi adalah majas perbandingan yang memperbandingkan sesuatu dengan keadaan lain karena adanya persamaan sifat. Contoh : Wajahnya muram bagai bulan kesiangan.
11. Perifrasis adalah perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan menguraikan sepatah kata menjadi serangkaian kata yang mengandung arti yang sama dengan kata yang digantikan itu. Contoh : Petang barulah ia pulang. Menjadi : Ketika matahari hilang di balik gunung barulah ia pulang.
12. Metonimia adalah majas perbandingan yang menggunakan merk dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu yang dipergunakan atau dikerjakan sehingga kata itu berasosiasi dengan benda keseluruhan. Contoh : Kemarin ia memakai Kijang (mobil merk Toyota Kijang)
13. Antonomasia adalah majas perbandingan dengan menyebutkan nama lain terhadap seseorang berdasarkan ciri atau sifat menonjol yang dimilikinya. Contoh : si pincang, si jangkung, si keriting, dsb.
14. Tropen adalah majas perbandingan yang melukiskan sesuatu dengan membandingkan suatu pekerjaan atau perbuatan dengan kata-kata lain yang mengandung pengertian yang sejalan dan sejajar. Contoh : Setiap malam ia menjual suaranya untuk nafkah anak istrinya.
15. Parabel adalah majas perbandingan dengan menggunakan perumpamaan dalam hidup. Misalnya : Mahabarata, Bayan Budiman.
Senin, 17 Mei 2010
Kotak Surat Terakhir
KOTAK SURAT TERAKHIR
Karya Mochammad Asrori
PARA PELAKU
SENO, 45 tahun, penampilan jauh lebih tua dari usianya.
GUN, 42 tahun, adik Seno.
ISTRI, 40 tahun, istri Seno
ED, 20 tahun, anak pertama Seno-Istri, taruna polisi
YO, 19 tahun, anak kedua Seno-Istri, mahasiswa tingkat awal fakultas kedokteran
Re, 18 tahun, anak ketiga Seno-Istri, mahasiswa tingkat awal fakultas seni
BABAK I
PANGGUNG DI BAGI MENJADI TIGA KOMPOSISI . KOMPOSISI PERTAMA ADA TOKOH RE, IA DUDUK DI SEBUAH KOTAK KAYU, DI SAMPINGNYA TERDAPAT SEBUAH KANVAS LUKISAN YANG TAMPAK BELUM RAMPUNG, BOTOL-BOTOL KECIL CAT, PALET, DAN KUAS. KOMPOSISI KEDUA ADA TOKOH YO, IA DUDUK DI MEJA BELAJAR YANG PENUH TUMPUKAN BUKU-BUKU TEBAL. KOMPOSISI KETIGA ADA TOKOH ED, DI SAMPINGNYA TERGELANTUNG SEBUAH SANSAK TINJU . LAMPU KEMUDIAN MENYALA PELAN DI ATAS TOKOH RE, LAMPU LAIN MENYUSUL MENYALA DI ATAS TOKOH YO, LAMPU LAIN MENYUSUL MENYALA DI ATAS TOKOH ED. MEMPERLIHATKAN RUANG DAN WAKTU YANG BERBEDA, DALAM POSISI TABLO, KETIGANYA TAMPAK MELAKUKAN HAL YANG SAMA, MEMBACA SELEMBAR KERTAS SURAT . SUARA NARATOR MENGGEMA MEMBACAKAN ISI SURAT.
SUARA
Aku tak perlu mengingatkan lagi sudah berapa pucuk surat yang telah kulayangkan.Ini adalah surat terakhir yang kutulis. Surat ini bukan instruksi, surat ini adalah amanat. Patuhilah. Sebagai surat terakhir, mungkin ini adalah kepatuhanmu yang terakhir kali pula. Pulanglah dan cobalah bahagiakan Ibumu di hari ulang tahunnya. Dari seorang yang selama ini kau panggil ayah.
SECARA BERGANTIAN KETIGA TOKOH BERGERAK DARI POSISI TABLO
ED (meremas surat dalam kepalan lalu berteriak dan meninju sansak di sampingnya)
LAMPU DIATAS ED PADAM
RE (mencampakkan surat ke tanah, mengambil palet dan kuas, dengan geram, gerakan tangannya cepat menggores kanvas disampingnya)
LAMPU DI ATAS RE PADAM
YO (pelan melipat surat dan menyelipkan di buku tebal yang ada di depannya)
LAMPU PADAM
BABAK II
Panggung bersetting garasi rumah. tampak tumpukan-tumpukan barang terserak di mana-mana. di sudut ruangan berdiri dua orang menjelang tua saling berhadapan. seorang berdiri di samping sebuah meja kayu yang di atasnya terdapat sesuatu yang tertutup oleh tudung dari kain. seorang yang lain berdiri dengan tidak sabar dan muka masam mengamati sesuatu yang terbungkus tudung di atas meja tersebut. hingga seorang yang berdiri di samping meja dengan antusias kemudian membuka tudung kain yang menutupi barang di atas meja. senyumannya dilanjutkan dengan tawa-tawa kecil.
SENO : Perkenalkan karya terbesarku ini (dengan raut bangga, kedua tangannya meliuk di seputar benda berbentuk rumah- rumahan mungil dengan tekstur tanpa lekukan tajam).
GUN : Apa itu? Seperti sebuah kota surat. Jadi? Aku tak mengerti maksudmu. Untuk apa kau perlihatkan padaku sebuah kotak surat?
SENO : Mendekatlah, lihat baik-baik. Bagaimana?
GUN : (mendekat dan meneliti kotak surat) Sebuah kotak surat tetap saja kotak surat. Tak ada bedanya.
SENO : Ayolah lebih dekat lagi. Sentuhlah.
GUN : Menyentuhnya? Aku tak mau menyentuhnya!
SENO : Sentuh atau!
GUN : Baiklah-baiklah. Dasar gila, untuk apa aku menyentuh sebuh kotak surat. (bergerak untuk menyentuhkan tangan ke kotak surat)
SENO : Nah sentuh, usap. Ketukkan sedikit genggamanmu, lalu … cium!
GUN : Apa! Mencium kotak surat. Apa kau benar-benar telah kehilangan akal sehat? Kau tahu kabar burung tentangmu dari tetangga nampak ada benarnya.
SENO : Kabar burung? Jangan dengarkan mereka.
GUN : Aku tak mendengarkan mereka (BERGERAK MENJAUH) tapi kenyataannya kau memang bertingkah aneh. Lihatlah dirimu? Akhir-akhir ini kau jarang muncul. Istrimu bilang kau selalu mendekam di garasi ini hingga berjam-jam tanpa ada alasan yang jelas. Bagaimana kau bisa betah dengan bau ini. Rasanya lebih mirip di sebuah tempat pengrajin, bau masam kayu bercampur dengan cairan-cairan kimia.
SENO : Ini labku, bukan sekadar garasi!
GUN : Lab? Ini lebih tepat sebagai kandang ternak!
SENO : Sudah cukup. Biar kutegaskan, semua ini bukan tanpa alasan? Kau ingin tahu alasannya. Benda di depanmu inilah alasannya.
GUN : Kotak surat ini?
SENO : Ya. Jadi ayo lekas usap, ketuk-ketuk sedikit lalu cium baunya, aromanya.
GUN : Kau … ahh! Ada-ada saja. Kau benar-benar … baiklah-baiklah, lihat dengan jelas agar kau puas. Aku tidak mau mengulanginya lagi seumur hidupku (cepat bergerak dan mencium kotak surat), puas?
SENO : Fantastis, bukan?
GUN : Fantastis? Apanya yang fantastis! Ini cuma kotak surat biasa!
SENO : Perhatikan baik-baik (KESAL). Apa tanganmu tak merasakan teksturnya? Apa kau tak mendengar bunyi gemanya yang lunak? Apa tak membersitkan sesuatu padamu? Betapa bodoh kau. Apa kau tak mencium aroma yang khas dari surat ini?
GUN : Tidak ada. Biasa-biasa saja. Kotak suratmu sama baunya dengan garasi ini.
SENO : Ini labku! Hahh? Rupanya indramu sudah berkarat. Kau tahu kotak surat ini kubuat dengan bahan metalion delirium polyester. Terobosan baru.
GUN : Sebuah kotak surat dari plastik, apa hebatnya?
SENO : Plastik? Plastik! Kurang ajar, ini bukan plastik. Metalion delirium polyester. Bukan plastik!
GUN : Men-taliun, del, del apa, delirium silvester. Terserah apa katamu, tapi ada yang ingin kusampaikan.
SENO : Apa kau tak bisa mengeja dengan benar, katakan apa yang hendak kamu sampaikan.
GUN : Aku ingin kita berdua saling terbuka. Ingat, aku saudaramu satu-satunya. Aku tahu kondisi kesehatanmu tidak begitu baik. Tapi jangan sampai itu mempengaruhi segala sesuatu di sekitarmu. Jika ada sesuatu yang membuatmu kesal dan mengganggu pikiran, ceritakan padaku. Aku siap mendengarkan.
SENO : Kau pikir aku gila!? Aku sehat-sehat saja. Tidak ada yang mengganggu pikiranku. Pergilah, kau membuatku kesal!
GUN : Baik-baik, aku pergi (melangkah ke arah pintu, berhenti sebentar) Ada satu hal yang harus kau ketahui. Kau laki-laki sempurna. Kau mempunyai isteri yang cantik, setia. Anak-anakmu cerdas dan mandiri, rumahmu nyaman dan menyenangkan. Kau memiliki keluarga harmonis idaman tiap orang. Jadi jangan bertingkah seolah kau tak mendapatkan semua itu. Tak ada alasan untuk berbuat sesuatu yang konyol.
SENO : Sesuatu yang konyol? Dasar, pergi sana! Kau sama sekali tak mengerti. Kau sama sekali tak mengerti apa artinya legasi.
LAMPU PADAM
BABAK III
HALAMAN SEBUAH RUMAH KOS. ED BERDIRI DI DEPAN PINTU. YO DUDUK DI KURSI PLASTIK, SIBUK MEMBACA BUKU DIKTAT TEBAL. ED TAMPAK TIDAK SABAR MENUNGGU REAKSI PINTU DIBUKA DARI DALAM.
ED : Lama sekali kau berkemas Re. Apakah kau sibuk berbedak dan bergincu juga? (tertawa). Lihatlah saudaramu yang satu itu Yo, sudah seperti banci saja.
YO : (tidak menjawab sibuk membolak-balikkan buku diktat dan memperbaiki posisi kacamatanya)
ED : Hey kutu buku, aku bicara padamu!
RE KELUAR DENGAN TAS RANSEL BESAR DI PUNGGUNG DAN SEBUAH TAS TENTENG.
ED : (tertawa melihat re keluar dengan bawaan yang banyak)
Lihatlah Yo, adikmu ini seperti hendak pergi ke gunung saja. Banyak sekali bawaannya. Apakah tak ketinggalan popokmu Re?
RE : Apa kau tak punya sopan santun, berteriak-teriak di muka pintu. Seperti rumah ini milikmu saja. Tirulah Yo dan kebisuannya, mungkin kau bisa belajar bagaimana caranya merebut hati gadis dengan kepintarannya.
YO : (berdiri terusik aktivitasnya) Apa? Aku tak percaya. Merebut? Apa yang aku rebut darimu? Aku tak percaya Setelah selama ini! Apakah kau tidak bisa melupakannya? Sudah jelas dia sudah muak kau jejali dengan kata-kata indahmu yang penuh omong kosong. Harusnya kau lebih miris dengan orang-orang yang menggunakan kekerasan otot-ototnya yang menonjol tak karuan untuk memikat gadis- gadis (memandang ke arah Ed).
ED : Cukup! Aku tak ingin ada ribut-ribut lagi. Masih saja kalian meributkan masalah gadis. Jangan melihat ke belakang.
YO : Hahh, siapa yang paling ribut di sini.
ED : Tetaplah jadi pendiam Yo, oke. Sekarang adakah diantara kalian yang tahu, ada urusan apa ini sebenarnya. Siapa kali ini yang berbuat ulah.
RE : Pakai nanya lagi? Paling-paling kau menghamili seorang gadis lagi.
ED : Kalian menuduhku? Apa yang kuperbuat? Aku hanya menerima sepucuk surat dari Ayah. Sama seperti kalian. Surat terakhir katanya.
YO : Ya, ia juga mengatakan hal yang sama dalam suratnya untukku. Ayah pasti sangat kesal pada kita hingga mengharuskan aku satu mobil bersama kalian.
RE : Sangat-sangat kesal. Mengapa kita tidak berangkat sendiri-sendiri?
ED : Baiklah, ingat kita sudah sepakat. Perjalanan ini mungkin bukanlah ide yang bagus. Bahkan terlintas pun tidak. Tapi kita sudah sepakat. Segala sesuatunya tidak menjadi akan lebih mudah bagi masing-masing. Kita semua tahu. Tapi sejak awal sudah kutandaskan, aku yang bertanggung jawab atas perjalanan ini. Aku yang mengurus segala keperluan, merencanakan kedatangan kita bersama, apa-apa yang kita ucapkan nantinya, dan mengantar kalian kembali. Bagaimana? Ada argumen atau pertanyaan. Tak ada. Bagus. Sekarang kita nikmati perjalanan kita yang menyenangkan.
LAMPU PADAM
BABAK IV
DI HALAMAN RUMAH YANG RIMBUN OLEH TUMBUH-TUMBUHAN, SENO SEDANG MEMASANG KOTAK SURAT BUATAN TANGANNYA DI ATAS PAGAR. TAMPAK LELAH IA, SEBENTAR-SEBENTAR MENGGERAK-GERAKKAN PINGGANG UNTUK MENGUSIR PEGAL. ISTRINYA MENGHAMPIRI.
ISTRI : Pagi yang cerah sayang.
SENO : Ya, sangat cerah. Ahh, udara yang segar.
ISTRI : Tumben sepagi ini sudah keluar dari gudang, kangen pada halaman dan kebun?
SENO : Kau menyindirku? Aku tahu akhir-akhir ini aku jarang ke luar rumah. Si Gun bilang aku mendekam di garasi seperti tumpukan koran bekas.
ISTRI : Adakalanya dia benar. Kau tahu, sayang, kau tampak lucu jika sedang sewot. Semakin tampan.
SENO : Tampan? Apalagi jika bersanding dengan perempuan cantik dan hebat sepertimu.
ISTRI : Terima kasih. Oh ya, kau sedang memasang kotak surat baru rupanya?
SENO : Ya, perkenalkan. Ini kotak surat terbaru kita, bagus bukan?
ISTRI : Sangat bagus. Indah sekali. Kapan kau membelinya?
SENO : Membeli? Aku membuat kotak surat ini dengan tanganku sendiri. Sebuah prototip kotak surat konvensional masa depan.
ISTRI : Bisakah Tuan Jenius ini menjelaskan keunggulan kotak surat ini.
SENO : Dengan senang hati, begini (mematut-matut diri dan berdehem seolah dalam resentasi resmi) Jika dilihat dari segi fisik, kotak surat ini memang tak berbeda dengan kotak surat pada umumnya. Tapi ada satu hal yang harus diperhatikan dari kotak surat ini.
ISTRI : Apa itu?
SENO : Bahan!
ISTRI : Bahan? Terbuat dari apakah kotak surat ini?
SENO : Kotak surat ini terbuat dari bahan sintetis penemuan terbaruku. Bahan tersebut akan membuat kotak surat ini tak lekang dimakan usia. Tidak akan berkarat dan rusak. Konstruksinya sangat kokoh. Hujan badai tak akan menggoyahkanya. Tendangan bola nyasar anak-anak tidak akan membuatnya bergetar, apalagi pesok seperti nasib kotak surat kita sebelumnya. Kotak surat ini juga anti air, setetes pun air tak akan mampu meresap ke dalam. Surat-surat dalam kotak tidak akan rusak, akan selalu aman terjaga.
Suhu di dalamnya juga akan tetap terjaga. Sesuai dengan kebutuhan kertas surat. Panas tidak akan berpengaruh sama sekali. Warnanya akan selalu baru, tak akan mengelupas atau luntur dalam lima dekade. Garansi. Satu hal lagi, aromanya. Aroma kotak surat ini sangat berbeda dengan kotak surat dari kayu atau logam. Lebih harum.Bagaimana?
ISTRI : Hebat, aku percaya kotak surat ini tidak akan tergantikan.
SENO : Pasti, sampai anak cucu kita. (beberapa saat terdiam)
ISTRI : Kau rindu anak-anak?
SENO : Bocah-bocah bandel itu? Ah, mereka selalu berbuat atas kemauannya sendiri. Ribut sendiri-sendiri. Bikin kesal. Tak bisakah mereka sekali-sekali ribut dengan orang lain dan bukannya dengan saudara sendiri? Tidak ada yang beres. Darimana mereka punya sifat keras kepala seperti itu?
ISTRI : Sudah, sudah. Aku tahu kamu rindu. Kapan mereka datang?
SENO : Entahlah, tapi mereka tidak akan melupakan hari istimewa ini lagi. Aku sudah menggertak mereka dalam surat. Bahkan sedikit pelajaran kerjasama secara langsung. Semua sudah dalam rencana, mereka pasti akan pulang.
ISTRI : Rencana? Kau tak bilang tentang rencana.
SENO : Tentu, ini rahasia laki-laki.
ISTRI : Baiklah, aku tak mau tahu atau penasaran. Tapi sekarang kita masuk dulu ke dalam rumah. Aku sudah siapkan sarapan istimewa.
SENO : Kau mengajakku masuk kembali ke dalam rumah. Padahal aku baru saja menikmati suasana di luar.
ISTRI : Ayolah, nanti sarapannya dingin, lagi pula kau adalah raja di dalam, bukan tumpukan koran bekas.
SENO : Baiklah, baiklah. (berjalan masuk ke dalam)
LAMPU PADAM
BABAK V
Terdengar bunyi mobil yang mengerem mendadak. Suaranya mencicit diakhiri suara debum. Lalu gaduh orang-orang ribut saling baku hantam. Setting panggung adalah pinggiran hutan dengan batu-batu besar. Re memapah yo ke tengah panggung. Di sana ia menyandarkan yo ke batu besar. Ed kemudian muncul menyeret seseorang, ia menjerembabkan orang itu ke tanah dan menendangnya tanpa ampun. Re melerai, ia memegangi ed. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh lawannya untuk kabur.
ED : Bedebah! Sekali lagi kau sentuh saudaraku, mampus kau di sini! Bangsat! Bajingan!
YO : Sudah, Ed. Sudah. Dia bisa mati nanti. Jangan dikejar, biarkan dia pergi. Kita sama sekali tidak mengenal seluk beluk daerah ini. Jangan cari keributan.
ED : Entah apa mau mereka. Kalian tidak apa-apa? Bagaimana kondisimu Yo?
YO : Aku tidak apa-apa. Hanya memar sedikit.
ED : Kita terjebak di sini. Tak ada yang bakal menolong untuk mengeluarkan mobil kita yang terperosok begitu dalam. Mobil-mobil tak bakal ada yang mau berhenti di tengah hutan ini. Kita terpaksa menunggu sampai fajar.
RE : Kita bisa mati kedinginan.
ED : Tidak mungkin, bukan mati kedinginan, tapi kamu akan mati ketakutan Re. (tertawa kecil)
YO : Sudahlah Ed, jangan memulai. Bagaimana kuliah senimu, Re?
RE : Baik. Semua dalam kendali yang sempurna jika diperbandingkan dengan keadaan mobil kita sekarang. Benar, bukan?
ED : Kau benar. Aku tak bisa membayangkan reaksi Ayah ketika melihat lekukan-lekukan tak lazim di mobil kesayangannya yang seksi ini.
RE : Belum lagi goresan-goresan yang artistik di sana. Wow, pffuuihh .... Tapi tak usah khawatir, semua dapat kita serahkan pada calon ahli bedah kita.
ED : Ya, untung saja ada dia. Paling tidak, ada seseorang yang dapat ditertawakan. Kau tahu kenapa, Re? Karena aku sudah membayangkan, sebagai calon dokter, dia sangat beruntung tidak menjadi calon dokter bedah pertama yang menjadi pasien di ruang operasi. (tertawa bersama re)
YO : Hahaha, terima kasih atas cemoohannya kalian berdua. Lagi pula, Re, apa yang kau lakukan ketika kakakmu ini digebukin orang.
RE : Hei, masih untung aku memapahmu. Lagi pula ada Tuan Jenderal yang bertugas. Sudah menjadi kebiasaan di kesatuan. Bukankah begitu Ed?
ED : Ya, selalu siap melayani Anda.
YO : Ya benar, untung ada Tuan Jenderal. Aduh sial, perutku masih mual kena tinju bajingan itu.
ED : Sudah jangan mengeluh, nanti juga lebih baik. Untung kau tidak kena pukul di muka.Kau harus mulai belajar beladiri, Yo. Lain kali akan kulatih kau.
YO : Sudah-sudah, jangan meledek terus, ingat kita bahkan belum membeli kado untuk Ibu.
ED : Kita bisa beli bunga di jalan besok.
RE : Kok bunga, rasanya seperti menjenguk orang sakit.
YO : Apakah Tuan Seniman kita yang bermimpi dengan karya masterpiece punya usul lain?
RE : Aku? Aku tidak punya usul apapun. Aku bisa membuatkan Ibu sebuah lukisan jika lebih awal diberitahu.
YO : Menghadiahi ibu dengan lukisan abstrakmu itu. Kau bahkan tidak bisa menggambar anatomi dengan benar? Bisa-bisa mukaku jadi lebih jelek daripada kena tonjok.
RE : Aku sedang tidak punya ide atau uang, jadi bagiku asalkan bukan pisau bedah atau pistol, aku setuju.
YO : Lucu sekali, Re.
RE : Apakah komplotan mereka tidak akan datang lagi membawa teman-teman mereka?
ED : Entahlah. Lihat sikumu berdarah Yo. Re, papah kakakmu masuk mobil, cari sesuatu untuk membersihkan lukanya, lalu balut.
YO : Tak apa, biar kubalut sendiri, sudah biasa. Terima kasih. Aku bersyukur dalam keadaan seperti ini ada kalian di sampingku. Aku akan baik-baik saja. (HENING)
ED : Aku akan cari sesuatu untuk membuat perapian. Cobalah untuk istirahat. Kita tidak tahu apa yang bakal kita hadapai besok.
LAMPU PADAM
BABAK VI
Ruang makan. Saat istrinya sibuk membenahi meja makan dan menata hidangan seno muncul membawa kue tar lengkap dengan lilin berbentuk angka 40. Sambil berjalan mendekati istri, seno menyanyikan lagu selamat ulang tahun. setelah selesai, istrinya meniup lilin tersebut dan memberi ciuman pada seno.
ISTRI : Terima kasih atas kuenya sayang.
SENO : Seharusnya bukan aku yang membawakannya. Tapi anak-anak bandel itu, mereka belum juga datang. Dasar! Masak terlambat di ulang tahunmu.
ISTRI : Kau menunggu mereka sayang? Mereka sebentar lagi pasti datang, sabarlah. Bagaimana keadaanmu?
SENO : Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Dokter boleh memvonis apapun tentang kesehatanku. Tapi aku yang memiliki tubuh ini. Aku yang paling tahu kondisi tubuhku.Rambutku boleh saja memutih sebelum waktunya. Dagingku boleh jadi hilang digerus penyakit sialan ini. Tapi aku sehat sekali hari ini.
ISTRI : Itu baru seseorang yang kukenal.
SENO : Seseorang yang kau kenal?
ISTRI : Ya, pria yang akan mendampingiku dan memperjuangkannya seumur hidup.
SENO : Tetap saja aku kesal dengan anak-anak itu.
ISTRI : Kamu tahu, sayang, kuakui rencanamu sungguh bagus. Aku tidak bisa membayangkan anak-anak itu berada dalam satu mobil. Pasti mereka saling diam. Begitu membosankan perjalanan mereka.
SENO : Itu tidak mungkin. Aku sudah mengatur sedikit guncangan-guncangan.
ISTRI : Guncangan?
SENO : Kau lihat saja hasilnya nanti.
ISTRI : Bagaimana kalau mereka tidak akur?
SENO : Mereka kan punya kebutuhan. Meraka nantinya toh akan memutuskan di mana mereka istirahat, makan, pergantian menyetir, cari penginapan, buang air, merekabutuh berkomunikasi. Mereka sudah dewasa, mereka akan saling mengerti, saling terbiasa dengan karakter satu sama lain. Mereka harus bersatu. Bukankah pada dasarnya mereka sama? Mereka akan menjadi saudara yang sempurna. Mereka punya kenangan kebersamaan. Mereka akan mendapatkannya lagi.
ISTRI : Kau benar sayang. Aku yakin semua akan berjalan sesuai rencanamu. Walaupun aku tidak tahu maksudmu melakukan semua ini.
SENO : Setidaknya, dengan upayaku ini, nantinya ada yang akan mendampingimu, menghiburmu, meramaikan rumah ini nantinya jika waktuku ….
LAMPU PADAM
BABAK VII
Ed, Yo, dan Re sudah menginjak halaman rumah ayah mereka.
RE : Ah, Akhirnya kita sampai.
ED : Ah, akhirnya, rumahku istanaku, kasur empukku, apakah masih ada ya?
YO : Ah, pegal sekali (menggeliat)
ED : Ayo lekas masuk, jangan biarkan Ibu menunggu, lagipula jangan membuat Ayah keluar. Aku tak mau melihat reaksinya melihat mobilnya yang kita bawa.
YO : Hei, lihat ayah memasang kotak surat baru!
ED : Ya, bagus sekali. Sangat jauh berbeda dengan kotak surat yang kau buat ya Re.
YO : Jika maksudmu kotak surat yang penyok terkena lemparan anak-anak iseng itu, kau benar, sangat jauh berbeda kelas. Kotak ini sangat elegan, begitu kokoh. Lekukannya sangat halus. Sempurna. Benar-benar kotak surat yang bagus.
RE : Ah, itu kan pengamatan dari orang yang tidak punya nilai rasa seperti kalian. Tapi hei, lihat ada yang aneh dengan kotak surat ini.
YO : Sesuatu yang aneh? Kotak surat ini bagus, tidak ada yang aneh. Sudahlah, Re, jangan bertingkah menutupi ego senimu.
RE : Hei, lihatlah dengan seksama. Di mana ya lubang kotak surat ini?
ED : Lubang kotak surat? Benar juga, di mana ya Ayah meletakkannya?
YO : Hei, kotak surat ini tidak memiliki lubang!
mereka berpandang-pandangan heran. tapi tak lama mereka kemudian berpaling ke arah pintu rumah. bersama-sama mereka berteriak.
ED, YO, DAN RE : Ayah.... Ibu.... Kami pulang….
TAMAT
BIODATA PENULIS
Mochammad Asrori dilahirkan di kota Surabaya, 24 Juni 1980. Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Menulis esai, cerpen, dan puisi di tengah rutinitas sebagai wartawan Glocal Magazine. Saat ini bergiat di komunitas penulis Warung Fiksi. Alamat: Dsn. Sidonganti RT.02/RW.01, Ds. Ngingasrembyong, Sooko, Mojokerto, 61361. Email: rori_story@yahoo.com. Ponsel: 085 231 586 507
Karya Mochammad Asrori
PARA PELAKU
SENO, 45 tahun, penampilan jauh lebih tua dari usianya.
GUN, 42 tahun, adik Seno.
ISTRI, 40 tahun, istri Seno
ED, 20 tahun, anak pertama Seno-Istri, taruna polisi
YO, 19 tahun, anak kedua Seno-Istri, mahasiswa tingkat awal fakultas kedokteran
Re, 18 tahun, anak ketiga Seno-Istri, mahasiswa tingkat awal fakultas seni
BABAK I
PANGGUNG DI BAGI MENJADI TIGA KOMPOSISI . KOMPOSISI PERTAMA ADA TOKOH RE, IA DUDUK DI SEBUAH KOTAK KAYU, DI SAMPINGNYA TERDAPAT SEBUAH KANVAS LUKISAN YANG TAMPAK BELUM RAMPUNG, BOTOL-BOTOL KECIL CAT, PALET, DAN KUAS. KOMPOSISI KEDUA ADA TOKOH YO, IA DUDUK DI MEJA BELAJAR YANG PENUH TUMPUKAN BUKU-BUKU TEBAL. KOMPOSISI KETIGA ADA TOKOH ED, DI SAMPINGNYA TERGELANTUNG SEBUAH SANSAK TINJU . LAMPU KEMUDIAN MENYALA PELAN DI ATAS TOKOH RE, LAMPU LAIN MENYUSUL MENYALA DI ATAS TOKOH YO, LAMPU LAIN MENYUSUL MENYALA DI ATAS TOKOH ED. MEMPERLIHATKAN RUANG DAN WAKTU YANG BERBEDA, DALAM POSISI TABLO, KETIGANYA TAMPAK MELAKUKAN HAL YANG SAMA, MEMBACA SELEMBAR KERTAS SURAT . SUARA NARATOR MENGGEMA MEMBACAKAN ISI SURAT.
SUARA
Aku tak perlu mengingatkan lagi sudah berapa pucuk surat yang telah kulayangkan.Ini adalah surat terakhir yang kutulis. Surat ini bukan instruksi, surat ini adalah amanat. Patuhilah. Sebagai surat terakhir, mungkin ini adalah kepatuhanmu yang terakhir kali pula. Pulanglah dan cobalah bahagiakan Ibumu di hari ulang tahunnya. Dari seorang yang selama ini kau panggil ayah.
SECARA BERGANTIAN KETIGA TOKOH BERGERAK DARI POSISI TABLO
ED (meremas surat dalam kepalan lalu berteriak dan meninju sansak di sampingnya)
LAMPU DIATAS ED PADAM
RE (mencampakkan surat ke tanah, mengambil palet dan kuas, dengan geram, gerakan tangannya cepat menggores kanvas disampingnya)
LAMPU DI ATAS RE PADAM
YO (pelan melipat surat dan menyelipkan di buku tebal yang ada di depannya)
LAMPU PADAM
BABAK II
Panggung bersetting garasi rumah. tampak tumpukan-tumpukan barang terserak di mana-mana. di sudut ruangan berdiri dua orang menjelang tua saling berhadapan. seorang berdiri di samping sebuah meja kayu yang di atasnya terdapat sesuatu yang tertutup oleh tudung dari kain. seorang yang lain berdiri dengan tidak sabar dan muka masam mengamati sesuatu yang terbungkus tudung di atas meja tersebut. hingga seorang yang berdiri di samping meja dengan antusias kemudian membuka tudung kain yang menutupi barang di atas meja. senyumannya dilanjutkan dengan tawa-tawa kecil.
SENO : Perkenalkan karya terbesarku ini (dengan raut bangga, kedua tangannya meliuk di seputar benda berbentuk rumah- rumahan mungil dengan tekstur tanpa lekukan tajam).
GUN : Apa itu? Seperti sebuah kota surat. Jadi? Aku tak mengerti maksudmu. Untuk apa kau perlihatkan padaku sebuah kotak surat?
SENO : Mendekatlah, lihat baik-baik. Bagaimana?
GUN : (mendekat dan meneliti kotak surat) Sebuah kotak surat tetap saja kotak surat. Tak ada bedanya.
SENO : Ayolah lebih dekat lagi. Sentuhlah.
GUN : Menyentuhnya? Aku tak mau menyentuhnya!
SENO : Sentuh atau!
GUN : Baiklah-baiklah. Dasar gila, untuk apa aku menyentuh sebuh kotak surat. (bergerak untuk menyentuhkan tangan ke kotak surat)
SENO : Nah sentuh, usap. Ketukkan sedikit genggamanmu, lalu … cium!
GUN : Apa! Mencium kotak surat. Apa kau benar-benar telah kehilangan akal sehat? Kau tahu kabar burung tentangmu dari tetangga nampak ada benarnya.
SENO : Kabar burung? Jangan dengarkan mereka.
GUN : Aku tak mendengarkan mereka (BERGERAK MENJAUH) tapi kenyataannya kau memang bertingkah aneh. Lihatlah dirimu? Akhir-akhir ini kau jarang muncul. Istrimu bilang kau selalu mendekam di garasi ini hingga berjam-jam tanpa ada alasan yang jelas. Bagaimana kau bisa betah dengan bau ini. Rasanya lebih mirip di sebuah tempat pengrajin, bau masam kayu bercampur dengan cairan-cairan kimia.
SENO : Ini labku, bukan sekadar garasi!
GUN : Lab? Ini lebih tepat sebagai kandang ternak!
SENO : Sudah cukup. Biar kutegaskan, semua ini bukan tanpa alasan? Kau ingin tahu alasannya. Benda di depanmu inilah alasannya.
GUN : Kotak surat ini?
SENO : Ya. Jadi ayo lekas usap, ketuk-ketuk sedikit lalu cium baunya, aromanya.
GUN : Kau … ahh! Ada-ada saja. Kau benar-benar … baiklah-baiklah, lihat dengan jelas agar kau puas. Aku tidak mau mengulanginya lagi seumur hidupku (cepat bergerak dan mencium kotak surat), puas?
SENO : Fantastis, bukan?
GUN : Fantastis? Apanya yang fantastis! Ini cuma kotak surat biasa!
SENO : Perhatikan baik-baik (KESAL). Apa tanganmu tak merasakan teksturnya? Apa kau tak mendengar bunyi gemanya yang lunak? Apa tak membersitkan sesuatu padamu? Betapa bodoh kau. Apa kau tak mencium aroma yang khas dari surat ini?
GUN : Tidak ada. Biasa-biasa saja. Kotak suratmu sama baunya dengan garasi ini.
SENO : Ini labku! Hahh? Rupanya indramu sudah berkarat. Kau tahu kotak surat ini kubuat dengan bahan metalion delirium polyester. Terobosan baru.
GUN : Sebuah kotak surat dari plastik, apa hebatnya?
SENO : Plastik? Plastik! Kurang ajar, ini bukan plastik. Metalion delirium polyester. Bukan plastik!
GUN : Men-taliun, del, del apa, delirium silvester. Terserah apa katamu, tapi ada yang ingin kusampaikan.
SENO : Apa kau tak bisa mengeja dengan benar, katakan apa yang hendak kamu sampaikan.
GUN : Aku ingin kita berdua saling terbuka. Ingat, aku saudaramu satu-satunya. Aku tahu kondisi kesehatanmu tidak begitu baik. Tapi jangan sampai itu mempengaruhi segala sesuatu di sekitarmu. Jika ada sesuatu yang membuatmu kesal dan mengganggu pikiran, ceritakan padaku. Aku siap mendengarkan.
SENO : Kau pikir aku gila!? Aku sehat-sehat saja. Tidak ada yang mengganggu pikiranku. Pergilah, kau membuatku kesal!
GUN : Baik-baik, aku pergi (melangkah ke arah pintu, berhenti sebentar) Ada satu hal yang harus kau ketahui. Kau laki-laki sempurna. Kau mempunyai isteri yang cantik, setia. Anak-anakmu cerdas dan mandiri, rumahmu nyaman dan menyenangkan. Kau memiliki keluarga harmonis idaman tiap orang. Jadi jangan bertingkah seolah kau tak mendapatkan semua itu. Tak ada alasan untuk berbuat sesuatu yang konyol.
SENO : Sesuatu yang konyol? Dasar, pergi sana! Kau sama sekali tak mengerti. Kau sama sekali tak mengerti apa artinya legasi.
LAMPU PADAM
BABAK III
HALAMAN SEBUAH RUMAH KOS. ED BERDIRI DI DEPAN PINTU. YO DUDUK DI KURSI PLASTIK, SIBUK MEMBACA BUKU DIKTAT TEBAL. ED TAMPAK TIDAK SABAR MENUNGGU REAKSI PINTU DIBUKA DARI DALAM.
ED : Lama sekali kau berkemas Re. Apakah kau sibuk berbedak dan bergincu juga? (tertawa). Lihatlah saudaramu yang satu itu Yo, sudah seperti banci saja.
YO : (tidak menjawab sibuk membolak-balikkan buku diktat dan memperbaiki posisi kacamatanya)
ED : Hey kutu buku, aku bicara padamu!
RE KELUAR DENGAN TAS RANSEL BESAR DI PUNGGUNG DAN SEBUAH TAS TENTENG.
ED : (tertawa melihat re keluar dengan bawaan yang banyak)
Lihatlah Yo, adikmu ini seperti hendak pergi ke gunung saja. Banyak sekali bawaannya. Apakah tak ketinggalan popokmu Re?
RE : Apa kau tak punya sopan santun, berteriak-teriak di muka pintu. Seperti rumah ini milikmu saja. Tirulah Yo dan kebisuannya, mungkin kau bisa belajar bagaimana caranya merebut hati gadis dengan kepintarannya.
YO : (berdiri terusik aktivitasnya) Apa? Aku tak percaya. Merebut? Apa yang aku rebut darimu? Aku tak percaya Setelah selama ini! Apakah kau tidak bisa melupakannya? Sudah jelas dia sudah muak kau jejali dengan kata-kata indahmu yang penuh omong kosong. Harusnya kau lebih miris dengan orang-orang yang menggunakan kekerasan otot-ototnya yang menonjol tak karuan untuk memikat gadis- gadis (memandang ke arah Ed).
ED : Cukup! Aku tak ingin ada ribut-ribut lagi. Masih saja kalian meributkan masalah gadis. Jangan melihat ke belakang.
YO : Hahh, siapa yang paling ribut di sini.
ED : Tetaplah jadi pendiam Yo, oke. Sekarang adakah diantara kalian yang tahu, ada urusan apa ini sebenarnya. Siapa kali ini yang berbuat ulah.
RE : Pakai nanya lagi? Paling-paling kau menghamili seorang gadis lagi.
ED : Kalian menuduhku? Apa yang kuperbuat? Aku hanya menerima sepucuk surat dari Ayah. Sama seperti kalian. Surat terakhir katanya.
YO : Ya, ia juga mengatakan hal yang sama dalam suratnya untukku. Ayah pasti sangat kesal pada kita hingga mengharuskan aku satu mobil bersama kalian.
RE : Sangat-sangat kesal. Mengapa kita tidak berangkat sendiri-sendiri?
ED : Baiklah, ingat kita sudah sepakat. Perjalanan ini mungkin bukanlah ide yang bagus. Bahkan terlintas pun tidak. Tapi kita sudah sepakat. Segala sesuatunya tidak menjadi akan lebih mudah bagi masing-masing. Kita semua tahu. Tapi sejak awal sudah kutandaskan, aku yang bertanggung jawab atas perjalanan ini. Aku yang mengurus segala keperluan, merencanakan kedatangan kita bersama, apa-apa yang kita ucapkan nantinya, dan mengantar kalian kembali. Bagaimana? Ada argumen atau pertanyaan. Tak ada. Bagus. Sekarang kita nikmati perjalanan kita yang menyenangkan.
LAMPU PADAM
BABAK IV
DI HALAMAN RUMAH YANG RIMBUN OLEH TUMBUH-TUMBUHAN, SENO SEDANG MEMASANG KOTAK SURAT BUATAN TANGANNYA DI ATAS PAGAR. TAMPAK LELAH IA, SEBENTAR-SEBENTAR MENGGERAK-GERAKKAN PINGGANG UNTUK MENGUSIR PEGAL. ISTRINYA MENGHAMPIRI.
ISTRI : Pagi yang cerah sayang.
SENO : Ya, sangat cerah. Ahh, udara yang segar.
ISTRI : Tumben sepagi ini sudah keluar dari gudang, kangen pada halaman dan kebun?
SENO : Kau menyindirku? Aku tahu akhir-akhir ini aku jarang ke luar rumah. Si Gun bilang aku mendekam di garasi seperti tumpukan koran bekas.
ISTRI : Adakalanya dia benar. Kau tahu, sayang, kau tampak lucu jika sedang sewot. Semakin tampan.
SENO : Tampan? Apalagi jika bersanding dengan perempuan cantik dan hebat sepertimu.
ISTRI : Terima kasih. Oh ya, kau sedang memasang kotak surat baru rupanya?
SENO : Ya, perkenalkan. Ini kotak surat terbaru kita, bagus bukan?
ISTRI : Sangat bagus. Indah sekali. Kapan kau membelinya?
SENO : Membeli? Aku membuat kotak surat ini dengan tanganku sendiri. Sebuah prototip kotak surat konvensional masa depan.
ISTRI : Bisakah Tuan Jenius ini menjelaskan keunggulan kotak surat ini.
SENO : Dengan senang hati, begini (mematut-matut diri dan berdehem seolah dalam resentasi resmi) Jika dilihat dari segi fisik, kotak surat ini memang tak berbeda dengan kotak surat pada umumnya. Tapi ada satu hal yang harus diperhatikan dari kotak surat ini.
ISTRI : Apa itu?
SENO : Bahan!
ISTRI : Bahan? Terbuat dari apakah kotak surat ini?
SENO : Kotak surat ini terbuat dari bahan sintetis penemuan terbaruku. Bahan tersebut akan membuat kotak surat ini tak lekang dimakan usia. Tidak akan berkarat dan rusak. Konstruksinya sangat kokoh. Hujan badai tak akan menggoyahkanya. Tendangan bola nyasar anak-anak tidak akan membuatnya bergetar, apalagi pesok seperti nasib kotak surat kita sebelumnya. Kotak surat ini juga anti air, setetes pun air tak akan mampu meresap ke dalam. Surat-surat dalam kotak tidak akan rusak, akan selalu aman terjaga.
Suhu di dalamnya juga akan tetap terjaga. Sesuai dengan kebutuhan kertas surat. Panas tidak akan berpengaruh sama sekali. Warnanya akan selalu baru, tak akan mengelupas atau luntur dalam lima dekade. Garansi. Satu hal lagi, aromanya. Aroma kotak surat ini sangat berbeda dengan kotak surat dari kayu atau logam. Lebih harum.Bagaimana?
ISTRI : Hebat, aku percaya kotak surat ini tidak akan tergantikan.
SENO : Pasti, sampai anak cucu kita. (beberapa saat terdiam)
ISTRI : Kau rindu anak-anak?
SENO : Bocah-bocah bandel itu? Ah, mereka selalu berbuat atas kemauannya sendiri. Ribut sendiri-sendiri. Bikin kesal. Tak bisakah mereka sekali-sekali ribut dengan orang lain dan bukannya dengan saudara sendiri? Tidak ada yang beres. Darimana mereka punya sifat keras kepala seperti itu?
ISTRI : Sudah, sudah. Aku tahu kamu rindu. Kapan mereka datang?
SENO : Entahlah, tapi mereka tidak akan melupakan hari istimewa ini lagi. Aku sudah menggertak mereka dalam surat. Bahkan sedikit pelajaran kerjasama secara langsung. Semua sudah dalam rencana, mereka pasti akan pulang.
ISTRI : Rencana? Kau tak bilang tentang rencana.
SENO : Tentu, ini rahasia laki-laki.
ISTRI : Baiklah, aku tak mau tahu atau penasaran. Tapi sekarang kita masuk dulu ke dalam rumah. Aku sudah siapkan sarapan istimewa.
SENO : Kau mengajakku masuk kembali ke dalam rumah. Padahal aku baru saja menikmati suasana di luar.
ISTRI : Ayolah, nanti sarapannya dingin, lagi pula kau adalah raja di dalam, bukan tumpukan koran bekas.
SENO : Baiklah, baiklah. (berjalan masuk ke dalam)
LAMPU PADAM
BABAK V
Terdengar bunyi mobil yang mengerem mendadak. Suaranya mencicit diakhiri suara debum. Lalu gaduh orang-orang ribut saling baku hantam. Setting panggung adalah pinggiran hutan dengan batu-batu besar. Re memapah yo ke tengah panggung. Di sana ia menyandarkan yo ke batu besar. Ed kemudian muncul menyeret seseorang, ia menjerembabkan orang itu ke tanah dan menendangnya tanpa ampun. Re melerai, ia memegangi ed. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh lawannya untuk kabur.
ED : Bedebah! Sekali lagi kau sentuh saudaraku, mampus kau di sini! Bangsat! Bajingan!
YO : Sudah, Ed. Sudah. Dia bisa mati nanti. Jangan dikejar, biarkan dia pergi. Kita sama sekali tidak mengenal seluk beluk daerah ini. Jangan cari keributan.
ED : Entah apa mau mereka. Kalian tidak apa-apa? Bagaimana kondisimu Yo?
YO : Aku tidak apa-apa. Hanya memar sedikit.
ED : Kita terjebak di sini. Tak ada yang bakal menolong untuk mengeluarkan mobil kita yang terperosok begitu dalam. Mobil-mobil tak bakal ada yang mau berhenti di tengah hutan ini. Kita terpaksa menunggu sampai fajar.
RE : Kita bisa mati kedinginan.
ED : Tidak mungkin, bukan mati kedinginan, tapi kamu akan mati ketakutan Re. (tertawa kecil)
YO : Sudahlah Ed, jangan memulai. Bagaimana kuliah senimu, Re?
RE : Baik. Semua dalam kendali yang sempurna jika diperbandingkan dengan keadaan mobil kita sekarang. Benar, bukan?
ED : Kau benar. Aku tak bisa membayangkan reaksi Ayah ketika melihat lekukan-lekukan tak lazim di mobil kesayangannya yang seksi ini.
RE : Belum lagi goresan-goresan yang artistik di sana. Wow, pffuuihh .... Tapi tak usah khawatir, semua dapat kita serahkan pada calon ahli bedah kita.
ED : Ya, untung saja ada dia. Paling tidak, ada seseorang yang dapat ditertawakan. Kau tahu kenapa, Re? Karena aku sudah membayangkan, sebagai calon dokter, dia sangat beruntung tidak menjadi calon dokter bedah pertama yang menjadi pasien di ruang operasi. (tertawa bersama re)
YO : Hahaha, terima kasih atas cemoohannya kalian berdua. Lagi pula, Re, apa yang kau lakukan ketika kakakmu ini digebukin orang.
RE : Hei, masih untung aku memapahmu. Lagi pula ada Tuan Jenderal yang bertugas. Sudah menjadi kebiasaan di kesatuan. Bukankah begitu Ed?
ED : Ya, selalu siap melayani Anda.
YO : Ya benar, untung ada Tuan Jenderal. Aduh sial, perutku masih mual kena tinju bajingan itu.
ED : Sudah jangan mengeluh, nanti juga lebih baik. Untung kau tidak kena pukul di muka.Kau harus mulai belajar beladiri, Yo. Lain kali akan kulatih kau.
YO : Sudah-sudah, jangan meledek terus, ingat kita bahkan belum membeli kado untuk Ibu.
ED : Kita bisa beli bunga di jalan besok.
RE : Kok bunga, rasanya seperti menjenguk orang sakit.
YO : Apakah Tuan Seniman kita yang bermimpi dengan karya masterpiece punya usul lain?
RE : Aku? Aku tidak punya usul apapun. Aku bisa membuatkan Ibu sebuah lukisan jika lebih awal diberitahu.
YO : Menghadiahi ibu dengan lukisan abstrakmu itu. Kau bahkan tidak bisa menggambar anatomi dengan benar? Bisa-bisa mukaku jadi lebih jelek daripada kena tonjok.
RE : Aku sedang tidak punya ide atau uang, jadi bagiku asalkan bukan pisau bedah atau pistol, aku setuju.
YO : Lucu sekali, Re.
RE : Apakah komplotan mereka tidak akan datang lagi membawa teman-teman mereka?
ED : Entahlah. Lihat sikumu berdarah Yo. Re, papah kakakmu masuk mobil, cari sesuatu untuk membersihkan lukanya, lalu balut.
YO : Tak apa, biar kubalut sendiri, sudah biasa. Terima kasih. Aku bersyukur dalam keadaan seperti ini ada kalian di sampingku. Aku akan baik-baik saja. (HENING)
ED : Aku akan cari sesuatu untuk membuat perapian. Cobalah untuk istirahat. Kita tidak tahu apa yang bakal kita hadapai besok.
LAMPU PADAM
BABAK VI
Ruang makan. Saat istrinya sibuk membenahi meja makan dan menata hidangan seno muncul membawa kue tar lengkap dengan lilin berbentuk angka 40. Sambil berjalan mendekati istri, seno menyanyikan lagu selamat ulang tahun. setelah selesai, istrinya meniup lilin tersebut dan memberi ciuman pada seno.
ISTRI : Terima kasih atas kuenya sayang.
SENO : Seharusnya bukan aku yang membawakannya. Tapi anak-anak bandel itu, mereka belum juga datang. Dasar! Masak terlambat di ulang tahunmu.
ISTRI : Kau menunggu mereka sayang? Mereka sebentar lagi pasti datang, sabarlah. Bagaimana keadaanmu?
SENO : Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Dokter boleh memvonis apapun tentang kesehatanku. Tapi aku yang memiliki tubuh ini. Aku yang paling tahu kondisi tubuhku.Rambutku boleh saja memutih sebelum waktunya. Dagingku boleh jadi hilang digerus penyakit sialan ini. Tapi aku sehat sekali hari ini.
ISTRI : Itu baru seseorang yang kukenal.
SENO : Seseorang yang kau kenal?
ISTRI : Ya, pria yang akan mendampingiku dan memperjuangkannya seumur hidup.
SENO : Tetap saja aku kesal dengan anak-anak itu.
ISTRI : Kamu tahu, sayang, kuakui rencanamu sungguh bagus. Aku tidak bisa membayangkan anak-anak itu berada dalam satu mobil. Pasti mereka saling diam. Begitu membosankan perjalanan mereka.
SENO : Itu tidak mungkin. Aku sudah mengatur sedikit guncangan-guncangan.
ISTRI : Guncangan?
SENO : Kau lihat saja hasilnya nanti.
ISTRI : Bagaimana kalau mereka tidak akur?
SENO : Mereka kan punya kebutuhan. Meraka nantinya toh akan memutuskan di mana mereka istirahat, makan, pergantian menyetir, cari penginapan, buang air, merekabutuh berkomunikasi. Mereka sudah dewasa, mereka akan saling mengerti, saling terbiasa dengan karakter satu sama lain. Mereka harus bersatu. Bukankah pada dasarnya mereka sama? Mereka akan menjadi saudara yang sempurna. Mereka punya kenangan kebersamaan. Mereka akan mendapatkannya lagi.
ISTRI : Kau benar sayang. Aku yakin semua akan berjalan sesuai rencanamu. Walaupun aku tidak tahu maksudmu melakukan semua ini.
SENO : Setidaknya, dengan upayaku ini, nantinya ada yang akan mendampingimu, menghiburmu, meramaikan rumah ini nantinya jika waktuku ….
LAMPU PADAM
BABAK VII
Ed, Yo, dan Re sudah menginjak halaman rumah ayah mereka.
RE : Ah, Akhirnya kita sampai.
ED : Ah, akhirnya, rumahku istanaku, kasur empukku, apakah masih ada ya?
YO : Ah, pegal sekali (menggeliat)
ED : Ayo lekas masuk, jangan biarkan Ibu menunggu, lagipula jangan membuat Ayah keluar. Aku tak mau melihat reaksinya melihat mobilnya yang kita bawa.
YO : Hei, lihat ayah memasang kotak surat baru!
ED : Ya, bagus sekali. Sangat jauh berbeda dengan kotak surat yang kau buat ya Re.
YO : Jika maksudmu kotak surat yang penyok terkena lemparan anak-anak iseng itu, kau benar, sangat jauh berbeda kelas. Kotak ini sangat elegan, begitu kokoh. Lekukannya sangat halus. Sempurna. Benar-benar kotak surat yang bagus.
RE : Ah, itu kan pengamatan dari orang yang tidak punya nilai rasa seperti kalian. Tapi hei, lihat ada yang aneh dengan kotak surat ini.
YO : Sesuatu yang aneh? Kotak surat ini bagus, tidak ada yang aneh. Sudahlah, Re, jangan bertingkah menutupi ego senimu.
RE : Hei, lihatlah dengan seksama. Di mana ya lubang kotak surat ini?
ED : Lubang kotak surat? Benar juga, di mana ya Ayah meletakkannya?
YO : Hei, kotak surat ini tidak memiliki lubang!
mereka berpandang-pandangan heran. tapi tak lama mereka kemudian berpaling ke arah pintu rumah. bersama-sama mereka berteriak.
ED, YO, DAN RE : Ayah.... Ibu.... Kami pulang….
TAMAT
BIODATA PENULIS
Mochammad Asrori dilahirkan di kota Surabaya, 24 Juni 1980. Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya. Menulis esai, cerpen, dan puisi di tengah rutinitas sebagai wartawan Glocal Magazine. Saat ini bergiat di komunitas penulis Warung Fiksi. Alamat: Dsn. Sidonganti RT.02/RW.01, Ds. Ngingasrembyong, Sooko, Mojokerto, 61361. Email: rori_story@yahoo.com. Ponsel: 085 231 586 507
Sabtu, 01 Mei 2010
Marah Roesli
Marah Roesli atau Marah Rusli bin Abu Bakar (lahir di Padang, Sumatera Barat pada 7 Ogos 1889, dan meninggal di Bandung, Jawa Barat pada 17 Januari 1968) adalah pengasas novel moden Indonesia. Beliau dari generasi pengarang Balai Pustaka.
Namanya terkenal kerana novel percintaan Siti Nurbaya yang diterbitkan pada tahun 1920.Siti Nurbaya seorang wanita yang dipaksa oleh orangtuanya dengan lelaki yang tidak dicintainya. Pengarang Minangkabau lain, seperti Hamka, Ali Akbar Navis, dan Abdul Muis banyak menulis novel dengan latar belakang kemiskinan dan budaya Minangkabau, Sumatera.
Ayah Marah Roesli ialah Sultan Abu Bakar, seorang bangsawan di Padang. Marah Roesli berkahwin dengan seorang gadis Sunda yang lahir di Bogor pada tahun 1911.Mereka mendapat tiga anak, dua anak laki-laki dan satu perempuan. Pernikahan ini tidak diingini oleh orang tuanya.
Seperti Taufik Ismail dan Asrul Sani, Marah Roesli juga seorang ahli vetrina sehingga 1952.Beliau mendapat sumber ilham dari kisah masyarakat di Sumatera Barat, dan membaca buku sastra.
HB Jassin mengangkat beliau sebagai "Bapak Novel Indonesia Modern". Sebelum novel pertama ditulis di Indonesia, sastera itu lebih mirip dengan cerita rakyat.
Novel Siti Nurbaya terpapar emansipasi wanita.Wanita itu mula berfikir tentang hak-hak yang sama dengan lelaki. Wanitanya mahu berdikari, tidak semestinya menurut kata ibu bapa dan boleh membuat keputusan sendiri.
Bibliografi
1. Siti Nurbaya - diterjemahkan ke bahasa Russia.
2. La Hami (1924)
3. Anak dan kemenakan (1956)
4. Memang Jodoh (jawi)
5. Tesna Zahera (drama)
6. Gadis yang Malang (novel diterjemahkan daripada Charles Dickens, 1922)
Namanya terkenal kerana novel percintaan Siti Nurbaya yang diterbitkan pada tahun 1920.Siti Nurbaya seorang wanita yang dipaksa oleh orangtuanya dengan lelaki yang tidak dicintainya. Pengarang Minangkabau lain, seperti Hamka, Ali Akbar Navis, dan Abdul Muis banyak menulis novel dengan latar belakang kemiskinan dan budaya Minangkabau, Sumatera.
Ayah Marah Roesli ialah Sultan Abu Bakar, seorang bangsawan di Padang. Marah Roesli berkahwin dengan seorang gadis Sunda yang lahir di Bogor pada tahun 1911.Mereka mendapat tiga anak, dua anak laki-laki dan satu perempuan. Pernikahan ini tidak diingini oleh orang tuanya.
Seperti Taufik Ismail dan Asrul Sani, Marah Roesli juga seorang ahli vetrina sehingga 1952.Beliau mendapat sumber ilham dari kisah masyarakat di Sumatera Barat, dan membaca buku sastra.
HB Jassin mengangkat beliau sebagai "Bapak Novel Indonesia Modern". Sebelum novel pertama ditulis di Indonesia, sastera itu lebih mirip dengan cerita rakyat.
Novel Siti Nurbaya terpapar emansipasi wanita.Wanita itu mula berfikir tentang hak-hak yang sama dengan lelaki. Wanitanya mahu berdikari, tidak semestinya menurut kata ibu bapa dan boleh membuat keputusan sendiri.
Bibliografi
1. Siti Nurbaya - diterjemahkan ke bahasa Russia.
2. La Hami (1924)
3. Anak dan kemenakan (1956)
4. Memang Jodoh (jawi)
5. Tesna Zahera (drama)
6. Gadis yang Malang (novel diterjemahkan daripada Charles Dickens, 1922)
Kamis, 21 Januari 2010
Twelfth Night, or What You Will
Malam Keduabelas (Inggris: Twelfth Night) adalah sandiwara komedi karya William Shakespeare. Sandiwara ini diperkirakan pertama diangkat ke atas panggung pada tanggal 6 Januari 1601, 12 hari setelah Natal, yang merupakan asal muasal judulnya, dan merupakan salah satu komedi Shakespeare yang paling terkenal.
Dalam sandiwara in, Viola, seorang gadis bangsawan, mengalami kapal karam dan terdampar di tanah asing. Ia berpikir saudara kembarnya, Sebastian, tenggelam. Viola lalu berdandan sebagai pria dan menjadi pelayan di rumah seorang adipati, dan tiba-tiba terjebak dalam cinta segitiga dengan sang adipati dan seorang wanita bangsawan yang cantik. Kebingungan tersebut ditambah lagi dengan seorang pelayan yang usil, paman yang eksentrik, kapten kapal, pembantu yang membuat rencana, dan Sebastian yang ternyata masih hidup.
Tokoh utama
* Viola, seorang gadis bangsawan yang menyamar sebagai seorang pria muda bernama Cesario
* Sebastian, saudara kembar Viola
* Orsino, Adipati Illyria
* Olivia, seorang wanita bangsawan
* Maria, pembantu Olivia
* Malvolio, pelayan Olivia
* Sir Toby Belch, paman Olivia yang mabuk
* Sir Andrew Aguecheek, teman Toby yang bodoh dan ingin melamar Olivia
* Antonio, seorang kapten kapal
Waktu dan tempat
Awal abad ke-17 di Illyria, sebuah negara di Laut Adriatik.
Sinopsis
Ceritanya berpusat mengenai Viola, seorang wanita muda yang baru saja kehilangan saudara kembarnya, Sebastian, di laut. Masing-masing mengira saudaranya telah tewas. Viola kemudian menyamar menjadi laki-laki bernama Cesario untuk bekerja pada Duke Orsino. Orsino kebetulan sedang jatuh cinta pada Olivia, seorang wanita yang kakaknya baru meninggal dan berkabung sehingga ia menolak rayuan Orsino. Karena itu Orsino mengirim Cesario alias Viola untuk membujuk Olivia.
Tak dinyana Olivia malah jatuh cinta pada Viola yang dikiranya seorang laki-laki. Padahal Viola juga jatuh cinta pada Orsino. Kebingungan makin memuncak ketika Sebastian tiba-tiba muncul sehat walafiat. Olivia mengira Sebastian adalah Viola, dan Viola ragu-ragu apakah ia akan keluar dari samarannya agar dapat memikat Orsino.
Dalam sandiwara in, Viola, seorang gadis bangsawan, mengalami kapal karam dan terdampar di tanah asing. Ia berpikir saudara kembarnya, Sebastian, tenggelam. Viola lalu berdandan sebagai pria dan menjadi pelayan di rumah seorang adipati, dan tiba-tiba terjebak dalam cinta segitiga dengan sang adipati dan seorang wanita bangsawan yang cantik. Kebingungan tersebut ditambah lagi dengan seorang pelayan yang usil, paman yang eksentrik, kapten kapal, pembantu yang membuat rencana, dan Sebastian yang ternyata masih hidup.
Tokoh utama
* Viola, seorang gadis bangsawan yang menyamar sebagai seorang pria muda bernama Cesario
* Sebastian, saudara kembar Viola
* Orsino, Adipati Illyria
* Olivia, seorang wanita bangsawan
* Maria, pembantu Olivia
* Malvolio, pelayan Olivia
* Sir Toby Belch, paman Olivia yang mabuk
* Sir Andrew Aguecheek, teman Toby yang bodoh dan ingin melamar Olivia
* Antonio, seorang kapten kapal
Waktu dan tempat
Awal abad ke-17 di Illyria, sebuah negara di Laut Adriatik.
Sinopsis
Ceritanya berpusat mengenai Viola, seorang wanita muda yang baru saja kehilangan saudara kembarnya, Sebastian, di laut. Masing-masing mengira saudaranya telah tewas. Viola kemudian menyamar menjadi laki-laki bernama Cesario untuk bekerja pada Duke Orsino. Orsino kebetulan sedang jatuh cinta pada Olivia, seorang wanita yang kakaknya baru meninggal dan berkabung sehingga ia menolak rayuan Orsino. Karena itu Orsino mengirim Cesario alias Viola untuk membujuk Olivia.
Tak dinyana Olivia malah jatuh cinta pada Viola yang dikiranya seorang laki-laki. Padahal Viola juga jatuh cinta pada Orsino. Kebingungan makin memuncak ketika Sebastian tiba-tiba muncul sehat walafiat. Olivia mengira Sebastian adalah Viola, dan Viola ragu-ragu apakah ia akan keluar dari samarannya agar dapat memikat Orsino.
William Shakespeare
William Shakespeare (lahir di Stratford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris, 26 April 1564 – meninggal di Stratford-upon-Avon, Warwickshire, Inggris, 23 April 1616 pada umur 51 tahun) adalah seorang penulis Inggris yang seringkali disebut orang sebagai salah satu sastrawan terbesar Inggris. Ia menulis sekitar 38 sandiwara tragedi, komedi, sejarah, dan 154 sonata, 2 puisi naratif, dan puisi-puisi yang lain. Ia menulis antara tahun 1585 dan 1613 dan karyanya telah diterjemahkan di hampir semua bahasa hidup di dunia dan dipentaskan di panggung lebih daripada semua penulis sandiwara yang lain.
Kehidupan
"Some are born great, some achieve greatness, and some have greatness thrust upon them"
—Twelfth Night
Shakespeare lahir di Stratford-upon-Avon, Inggris, pada bulan April 1564, sebagai putra John Shakespeare dan Mary Arden. Ayah William cukup kaya ketika ia lahir dan memiliki bisnis pembuatan sarung tangan namun kemudian ia menjadi agak miskin setelah menjual wol secara ilegal. Shakespeare tidak mengikuti jejak ayahnya.
Pada zaman itu, sekolah umum baru dimulai di Inggris. Sebelumnya, hampir semua anak tidak tahu cara membaca dan menulis, mereka hanya belajar suatu ketrampilan atau bertani. Shakespeare pergi ke salah satu sekolah umum yang baru ini. Ia belajar Latin, yang merupakan bahasa semua kaum terpelajar, tidak peduli dari negara mana mereka berasal. Dari London ke Lisbon, dari Aleksandria ke Konstantinopel, dari Tunis ke Yerusalem, semua orang terpelajar berbicara Latin dan bahasa ibu mereka. Semua dokumen penting, baik dokumen negara, gereja, atau perdagangan, ditulis menggunakan Latin.
Shakespeare juga mempelajari karya-karya para penulis dan filosofer dari Yunani Kuno dan Romawi. Lebih dari 100 tahun berlalu sejak Yohanes Gutenberg memperkenalkan percetakan ke Eropa pada tahun 1452. Shakespeare dan orang Inggris lain yang dapat membaca ─ dan mampu membeli ─ buku-buku menjadi akrab dengan kisah-kisah dari berbagai tempat seperti Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara. Beberapa kisah-kisah ini menjadi dasar cerita-cerita terbesar Shakespeare. Contohnya, The Golden Ass karya Apuleius, sebuah kisah kuno dari Afrika Utara, kemungkinan merupakan kisah yang menginspirasikan Impian di Tengah Musim. Shakespeare meminjam cerita untuk Romeo dan Juliet dari seorang penulis Inggris lain, yang mendapatkannya dari seorang penulis Perancis, yang menterjemahkannya dari kisah abad ke-16 oleh Luigi da Porta dari Italia yang bersumpah bahwa cerita tersebut adalah berdasarkan cerita nyata.
Sampul muka Folio Pertama, 1623. Gambar Shakespeare oleh Martin Droeshut
Di dalam dunia Shakespeare, terdapat susunan-susunan yang telah diterima secara umum. Hampir semua orang di Inggris adalah Kristen. Di hierarki terbawah terdapat kaum pekerja, di atasnya para petani dan pedangang, lalu para pendeta dan pengawal, lalu naik lagi para ksatria, tuan tanah, uskup agung, dan para adipati. Sang monarki bertahta di puncak tatanan sosial. Di Inggris, monarki tersebut adalah Ratu Elizabeth I (yang dilanjutkan dengan kemenakannya, James I).
Elizabeth I memerintah Inggris hampir selama hidup Shakespeare. Pada zaman tersebut tidak ada peperangan. Diplomasi sang ratu membuat kedua seterunya Perancis dan Spanyol terjaga seimbang. Perdagangan berkembang. London menjadi kota yang padat, ramai, dan penuh dengan peluang. Rumah-rumah sandiwara dibangun di London; teater-teater tersebut adalah tempat yang populer dikunjungi masyarakat.
Sistem kelas pada zaman Shakespeare dapat saja sudah memiliki susunan-susunan, namun hal tersebut tidak statis. Orang-orang mulai berpikir tentang mereka sendiri. Shakespeare hidup di zaman Renaissans yang berarti "kelahiran kembali" yang terjadi pada abad ke-15 hingga abad ke-17 di Eropa.
Renaissans Eropa menghidupkan kembali pembelajaran klasik. Pada zaman tersebut terdapat gerakan kebangkitan minat terhadap seni, musik, dan arsitektur. Suatu dunia yang tua dan stagnan tiba-tiba berubah menjadi hidup dan vibran. Meskipun hampir semua orang percaya bahwa susunan matahari, bulan, bintang, dan planet mempengaruhi nasib mereka, beberapa orang mulai merubah cara berpikir mereka tentang diri mereka dan dunia yang mereka tinggali. Mereka mulai memahami kekuasaan dan posisi pemerintahan diciptakan oleh manusia, bukan ditentukan oleh Tuhan sejak lahirnya. Mereka menyadari bahwa kekristenan bukanlah satu-satunya agama di dunia. Dan karena banyak di antara mereka mulai dapat membaca, maka banyak juga yang tidak ingin tinggal di kelas sosial tempat mereka dilahirkan. Banyak petualang Renaissans menggunakan cara mereka sendiri-sendiri untuk mencari rejeki dan mengembangkan kehidupan mereka. Shakespeare adalah salah satu dari orang-orang tersebut.
Pada awal 1590an, William Shakepseare mengokohkan dirinya sebagai seorang penulis sandiwara dan aktor di London. Selain itu, ia juga memiliki bagian dari rumah sandiwara tempat ia dan teman-temannya bermain. Itu mungkin adalah sumber penghasilannya. Shakespeare menikahi Anne Hathaway, yang delapan tahun lebih tua daripadanya, pada tanggal 28 November 1582 di Temple Grafton, dekat Stratford. Anne kala itu hamil tiga bulan. Bersama-sama mereka dikaruniai tiga anak: Susanna, dan si kembar Hamnet dan Judith. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Stratford, dan kemungkinan besar Shakespeare pergi mengunjungi mereka setahun sekali. Pada tahun 1596 Hamnet meninggal dunia. Karena kemiripan nama, banyak orang berpikir bahwa hal ini mengilhaminya untuk menulis The Tragical History of Hamlet, Prince of Denmark.
Shakespeare menjadi orang teater yang sangat terkenal, sangat populer, dan sangat kaya. Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya; begitu pula dengan Raja James I, penerusnya. Pada pemerintahan James I, Shakespeare dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan "Orang-orang Raja" karena Raja James I adalah pengunjung mereka yang spesial. Shakespeare dan Orang-orang Raja bermain di istana kerajaan, di teater Globe dan di rumah sandiwara mereka, dan teater Blackfriars. Untuk mendapatkan lebih banyak uang, mereka juga mengadakan tur keliling Inggris, terutama pada saat-saat wabah penyakit menjangkit Inggris.
"All the world's a stage ..."
—As You Like It
Orang-orang zaman Elizabeth tidak memandang pemain atau penulis sandiwara adalah pekerjaan yang terhormat. Pergi ke teater pada zaman tersebut tidak sama seperti pergi ke teater pada saat ini, hal itu lebih seperti pergi menonton pertandingan sepak bola!
Teater-teater zaman Elizabeth merupakan bangunan kayu yang bertingkat-tingkat. Para penonton duduk di ketiga sisi atau berdiri di tengah-tengah lantai. Bagian tengah teater terbuka atapnya karena pada zaman itu belum ada penerangan buatan. Ribuan orang berjejalan di teater untuk pertunjukan sore hari. Para penonton berteriak-teriak di belakang para aktor. Teater Globe adalah tempat yang padat pengunjung, bising, dan berjejal-jejalan.
Puluhan ribu orang yang memadati untuk melihat sandiwara Shakespeare akan dapat mendengar 1700 kata yang diciptakan oleh Shakespeare. Banyak kata-kata ciptannya yang saat ini masih digunakan. Contohnya: "deafening" (menulikan), " hush", " hurry" (lekas), " downstairs" (di bawah), " gloomy" (sedih), " lonely" (sendirian), " embrace" (pelukan), " dawn" (senja). Ejaan yang digunakan Shakespeare pun berbeda dari zamannya. Orang-orang zaman Elizabeth mengeja kata-kata seperti yang tertulis, seperti Latin dan Indonesia. Tidak ada cara "yang benar" untuk mengeja. Orang-orang menulis suatu kata seperti ejaan yang mereka inginkan. Jika ingin menulis "me" (saya) tapi ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata tersebut akan dituliskan "mee". Jika sang penulis ingin kata tersebut dibaca seperti orang berteriak dari atap rumah, maka kata tersebut akan dituliskan "Meee".
Dalam teks Shakespeare akan dijumpai kata "stayed" (tinggal) dieja "stay'd", karena Shakespeare ingin mengucapkan kata tersebut sebagai satu suku kata (baca: 'steid') seperti ejaan bahasa Inggris sekarang, bukan dua suku kata (baca: 'stei-ed'). Bahasa Inggris modern banyak menggunakan penulisan dari zaman dahulu namun dengan menggunakan ejaan yang baru. Contohnya kata "knight" (ksatria) dulunya dieja sama seperti tulisannya (baca: 'k-ni-gh-t' 4 suku kata). Di dalam budaya oral seperti zaman Shakespeare, orang-orang mempedulikan detil intonasi, nada suara, dan bunyi yang ditimbulkan pada waktu mereka berbicara sehingga bahasa lisan yang digunakan lebih kaya pada zaman dahulu daripada zaman sekarang.
"To be, or not to be, that is the question"
—Hamlet
William Shakespeare menulis selama dua puluh lima tahun, menciptakan tiga puluh enam hingga tiga puluh sembilan karya yang diketahui hingga saat ini. Topik yang dicakup beragam mulai dari romans komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politis yang menggegerkan dunia. Namun tiga hal yang mendasari seluruh karyanya adalah pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus kita lakukan?
Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah sebabnya mengapa ahli-ahli literatur mempelajari karyanya, politikus-politikus mengutipnya, filosofer-filosofer menemukan cara berpikir yang baru dari membaca dan membaca ulang karyanya. Mempelajari Shakespeare adalah seperti mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual. Ritme yang digunakannya dalam kata-katanya terefleksi dalam ritme tubuh kita. Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik napas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.
Shakespeare berhenti menulis pada tahun 1611 dan meninggal dunia beberapa tahun kemudian pada 1616. Sampai wafatnya ia tetap menikah dengan Anne. Pada batu nisannya tertulis: "Blest be the man who cast these stones, and cursed be he that moves my bones." (bahasa Indonesia: "Terbekatilah ia yang menaruh batu-batu ini, dan terkutuklah ia yang memindahkan tulang-tulangku.")
Tulisan
"I grow, I prosper"
—King Lear
Shakespeare menulis tentang keadaan manusia yang sangat manusiawi. Ia memahami apa yang hampir semua orang ingini: untuk menyayangi orang lain, dan disayangi oleh orang lain; makan, minum, dan tidur dengan tenang; untuk hidup di tengah dunia yang besar dan memiliki arti di dalam hidup. Shakespeare juga memahami bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang terkadang jauh dari rencana-rencana mereka yang terhormat (atau tidak terhormat). Shakespeare adalah seorang jenius yang menunjukkan pada kita diri kita sesungguhnya.
Kehidupan
"Some are born great, some achieve greatness, and some have greatness thrust upon them"
—Twelfth Night
Shakespeare lahir di Stratford-upon-Avon, Inggris, pada bulan April 1564, sebagai putra John Shakespeare dan Mary Arden. Ayah William cukup kaya ketika ia lahir dan memiliki bisnis pembuatan sarung tangan namun kemudian ia menjadi agak miskin setelah menjual wol secara ilegal. Shakespeare tidak mengikuti jejak ayahnya.
Pada zaman itu, sekolah umum baru dimulai di Inggris. Sebelumnya, hampir semua anak tidak tahu cara membaca dan menulis, mereka hanya belajar suatu ketrampilan atau bertani. Shakespeare pergi ke salah satu sekolah umum yang baru ini. Ia belajar Latin, yang merupakan bahasa semua kaum terpelajar, tidak peduli dari negara mana mereka berasal. Dari London ke Lisbon, dari Aleksandria ke Konstantinopel, dari Tunis ke Yerusalem, semua orang terpelajar berbicara Latin dan bahasa ibu mereka. Semua dokumen penting, baik dokumen negara, gereja, atau perdagangan, ditulis menggunakan Latin.
Shakespeare juga mempelajari karya-karya para penulis dan filosofer dari Yunani Kuno dan Romawi. Lebih dari 100 tahun berlalu sejak Yohanes Gutenberg memperkenalkan percetakan ke Eropa pada tahun 1452. Shakespeare dan orang Inggris lain yang dapat membaca ─ dan mampu membeli ─ buku-buku menjadi akrab dengan kisah-kisah dari berbagai tempat seperti Italia, Perancis, Asia Minor, dan Afrika Utara. Beberapa kisah-kisah ini menjadi dasar cerita-cerita terbesar Shakespeare. Contohnya, The Golden Ass karya Apuleius, sebuah kisah kuno dari Afrika Utara, kemungkinan merupakan kisah yang menginspirasikan Impian di Tengah Musim. Shakespeare meminjam cerita untuk Romeo dan Juliet dari seorang penulis Inggris lain, yang mendapatkannya dari seorang penulis Perancis, yang menterjemahkannya dari kisah abad ke-16 oleh Luigi da Porta dari Italia yang bersumpah bahwa cerita tersebut adalah berdasarkan cerita nyata.
Sampul muka Folio Pertama, 1623. Gambar Shakespeare oleh Martin Droeshut
Di dalam dunia Shakespeare, terdapat susunan-susunan yang telah diterima secara umum. Hampir semua orang di Inggris adalah Kristen. Di hierarki terbawah terdapat kaum pekerja, di atasnya para petani dan pedangang, lalu para pendeta dan pengawal, lalu naik lagi para ksatria, tuan tanah, uskup agung, dan para adipati. Sang monarki bertahta di puncak tatanan sosial. Di Inggris, monarki tersebut adalah Ratu Elizabeth I (yang dilanjutkan dengan kemenakannya, James I).
Elizabeth I memerintah Inggris hampir selama hidup Shakespeare. Pada zaman tersebut tidak ada peperangan. Diplomasi sang ratu membuat kedua seterunya Perancis dan Spanyol terjaga seimbang. Perdagangan berkembang. London menjadi kota yang padat, ramai, dan penuh dengan peluang. Rumah-rumah sandiwara dibangun di London; teater-teater tersebut adalah tempat yang populer dikunjungi masyarakat.
Sistem kelas pada zaman Shakespeare dapat saja sudah memiliki susunan-susunan, namun hal tersebut tidak statis. Orang-orang mulai berpikir tentang mereka sendiri. Shakespeare hidup di zaman Renaissans yang berarti "kelahiran kembali" yang terjadi pada abad ke-15 hingga abad ke-17 di Eropa.
Renaissans Eropa menghidupkan kembali pembelajaran klasik. Pada zaman tersebut terdapat gerakan kebangkitan minat terhadap seni, musik, dan arsitektur. Suatu dunia yang tua dan stagnan tiba-tiba berubah menjadi hidup dan vibran. Meskipun hampir semua orang percaya bahwa susunan matahari, bulan, bintang, dan planet mempengaruhi nasib mereka, beberapa orang mulai merubah cara berpikir mereka tentang diri mereka dan dunia yang mereka tinggali. Mereka mulai memahami kekuasaan dan posisi pemerintahan diciptakan oleh manusia, bukan ditentukan oleh Tuhan sejak lahirnya. Mereka menyadari bahwa kekristenan bukanlah satu-satunya agama di dunia. Dan karena banyak di antara mereka mulai dapat membaca, maka banyak juga yang tidak ingin tinggal di kelas sosial tempat mereka dilahirkan. Banyak petualang Renaissans menggunakan cara mereka sendiri-sendiri untuk mencari rejeki dan mengembangkan kehidupan mereka. Shakespeare adalah salah satu dari orang-orang tersebut.
Pada awal 1590an, William Shakepseare mengokohkan dirinya sebagai seorang penulis sandiwara dan aktor di London. Selain itu, ia juga memiliki bagian dari rumah sandiwara tempat ia dan teman-temannya bermain. Itu mungkin adalah sumber penghasilannya. Shakespeare menikahi Anne Hathaway, yang delapan tahun lebih tua daripadanya, pada tanggal 28 November 1582 di Temple Grafton, dekat Stratford. Anne kala itu hamil tiga bulan. Bersama-sama mereka dikaruniai tiga anak: Susanna, dan si kembar Hamnet dan Judith. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Stratford, dan kemungkinan besar Shakespeare pergi mengunjungi mereka setahun sekali. Pada tahun 1596 Hamnet meninggal dunia. Karena kemiripan nama, banyak orang berpikir bahwa hal ini mengilhaminya untuk menulis The Tragical History of Hamlet, Prince of Denmark.
Shakespeare menjadi orang teater yang sangat terkenal, sangat populer, dan sangat kaya. Ratu Elizabeth I sangat menyukai karya-karyanya; begitu pula dengan Raja James I, penerusnya. Pada pemerintahan James I, Shakespeare dan kawan-kawan terkenal dengan sebutan "Orang-orang Raja" karena Raja James I adalah pengunjung mereka yang spesial. Shakespeare dan Orang-orang Raja bermain di istana kerajaan, di teater Globe dan di rumah sandiwara mereka, dan teater Blackfriars. Untuk mendapatkan lebih banyak uang, mereka juga mengadakan tur keliling Inggris, terutama pada saat-saat wabah penyakit menjangkit Inggris.
"All the world's a stage ..."
—As You Like It
Orang-orang zaman Elizabeth tidak memandang pemain atau penulis sandiwara adalah pekerjaan yang terhormat. Pergi ke teater pada zaman tersebut tidak sama seperti pergi ke teater pada saat ini, hal itu lebih seperti pergi menonton pertandingan sepak bola!
Teater-teater zaman Elizabeth merupakan bangunan kayu yang bertingkat-tingkat. Para penonton duduk di ketiga sisi atau berdiri di tengah-tengah lantai. Bagian tengah teater terbuka atapnya karena pada zaman itu belum ada penerangan buatan. Ribuan orang berjejalan di teater untuk pertunjukan sore hari. Para penonton berteriak-teriak di belakang para aktor. Teater Globe adalah tempat yang padat pengunjung, bising, dan berjejal-jejalan.
Puluhan ribu orang yang memadati untuk melihat sandiwara Shakespeare akan dapat mendengar 1700 kata yang diciptakan oleh Shakespeare. Banyak kata-kata ciptannya yang saat ini masih digunakan. Contohnya: "deafening" (menulikan), " hush", " hurry" (lekas), " downstairs" (di bawah), " gloomy" (sedih), " lonely" (sendirian), " embrace" (pelukan), " dawn" (senja). Ejaan yang digunakan Shakespeare pun berbeda dari zamannya. Orang-orang zaman Elizabeth mengeja kata-kata seperti yang tertulis, seperti Latin dan Indonesia. Tidak ada cara "yang benar" untuk mengeja. Orang-orang menulis suatu kata seperti ejaan yang mereka inginkan. Jika ingin menulis "me" (saya) tapi ingin memberikan penekanan pada kata tersebut, maka kata tersebut akan dituliskan "mee". Jika sang penulis ingin kata tersebut dibaca seperti orang berteriak dari atap rumah, maka kata tersebut akan dituliskan "Meee".
Dalam teks Shakespeare akan dijumpai kata "stayed" (tinggal) dieja "stay'd", karena Shakespeare ingin mengucapkan kata tersebut sebagai satu suku kata (baca: 'steid') seperti ejaan bahasa Inggris sekarang, bukan dua suku kata (baca: 'stei-ed'). Bahasa Inggris modern banyak menggunakan penulisan dari zaman dahulu namun dengan menggunakan ejaan yang baru. Contohnya kata "knight" (ksatria) dulunya dieja sama seperti tulisannya (baca: 'k-ni-gh-t' 4 suku kata). Di dalam budaya oral seperti zaman Shakespeare, orang-orang mempedulikan detil intonasi, nada suara, dan bunyi yang ditimbulkan pada waktu mereka berbicara sehingga bahasa lisan yang digunakan lebih kaya pada zaman dahulu daripada zaman sekarang.
"To be, or not to be, that is the question"
—Hamlet
William Shakespeare menulis selama dua puluh lima tahun, menciptakan tiga puluh enam hingga tiga puluh sembilan karya yang diketahui hingga saat ini. Topik yang dicakup beragam mulai dari romans komik hingga perang saudara, dari permainan domestik hingga kejadian politis yang menggegerkan dunia. Namun tiga hal yang mendasari seluruh karyanya adalah pertanyaan-pertanyaan: Apa artinya untuk hidup? Bagaimana cara kita hidup? Apa yang harus kita lakukan?
Sandiwara Shakespeare menawarkan pemahaman yang mendalam terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Itulah sebabnya mengapa ahli-ahli literatur mempelajari karyanya, politikus-politikus mengutipnya, filosofer-filosofer menemukan cara berpikir yang baru dari membaca dan membaca ulang karyanya. Mempelajari Shakespeare adalah seperti mempelajari hidup dari berbagai sudut pandang: psikologis, politis, filosofis, sosial, spiritual. Ritme yang digunakannya dalam kata-katanya terefleksi dalam ritme tubuh kita. Memainkan peranan sandiwara Shakespeare di panggung membuat seseorang menyadari seberapa dalam seseorang harus menarik napas supaya suaranya dapat terdengar sampai ujung ruangan.
Shakespeare berhenti menulis pada tahun 1611 dan meninggal dunia beberapa tahun kemudian pada 1616. Sampai wafatnya ia tetap menikah dengan Anne. Pada batu nisannya tertulis: "Blest be the man who cast these stones, and cursed be he that moves my bones." (bahasa Indonesia: "Terbekatilah ia yang menaruh batu-batu ini, dan terkutuklah ia yang memindahkan tulang-tulangku.")
Tulisan
"I grow, I prosper"
—King Lear
Shakespeare menulis tentang keadaan manusia yang sangat manusiawi. Ia memahami apa yang hampir semua orang ingini: untuk menyayangi orang lain, dan disayangi oleh orang lain; makan, minum, dan tidur dengan tenang; untuk hidup di tengah dunia yang besar dan memiliki arti di dalam hidup. Shakespeare juga memahami bahwa manusia memiliki kelemahan-kelemahan yang terkadang jauh dari rencana-rencana mereka yang terhormat (atau tidak terhormat). Shakespeare adalah seorang jenius yang menunjukkan pada kita diri kita sesungguhnya.
Langganan:
Postingan (Atom)